Logo
Oleh-Dara-Nya

 

        

 


 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

STTI Philadelphia memiliki visi dan misi untuk memperlengkapi mahasiswa dan gereja Tuhan dengan pemahaman Alkitab secara mendalam dan benar, karena kami sadar peperangan kita menghadapi penyesatan yang akan semakin berat dan memerlukan perlengkapan senjata rohani yang lebih baik lagi dengan kuasa Firman Tuhan.

KATA PENGANTAR (singkatan)
Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan, karena oleh kemurahan-Nya buku ini dapat diselesaikan dan diterbitkan. Semula buku ini merupakan Diktat Kuliah untuk Mata Kuliah Kritik Tekstual Perjanjian Baru yang penulis gunakan untuk mengajar baik di program Sarjana maupun Paska Sarjana STTI Philadelphia dan beberapa STT yang ternyata tertarik memasukan topik kuliah ini ke dalam kurikulum mereka. Sebelum menjadi buku seperti yang ada di tangan Anda sekarang ini, buku ini telah mengalami beberapa revisi untuk penyempurnaan isi dan penambahan data-data yang penulis dapatkan dalam penelitian belakangan ini.

Buku ini mungkin memberikan pembahasan yang sedikit tajam, namun bukan maksud dan tujuan penulis untuk menyerang atau menyinggung kelompok tertentu. Misalnya dalam pembahasan mengenai Westcott dan Hort text serta metode terjemahan Alkitab. Penulis sangat menghargai jerih lelah para pengedit dan penerjemah Alkitab, namun dalam buku ini penulis hanya ingin memberikan suatu wacana yang mungkin dapat dipertimbangkan dan syukur jika ditanggapi secara positif.

Untuk menghindari kesalahpahaman, penulis berharap Anda tidak menyimpulkan posisi penulis sebelum Anda membaca seluruh isi buku ini dan telah memahami maksud penulis. Pembacaan sepintas lalu, atau apalagi tidak sampai tuntas akan membuat Anda menilai penulis secara subyektif, dan yang lebih berbahaya adalah jika Anda mengadopsi pemikiran buku ini secara salah atau tidak sesuai dengan apa yang menjadi pemikiran dan tujuan penulis. Akhirnya syukur di atas segalanya dan segala kemuliaan hanya penulis panjatkan kepada Allah Tritunggal, yang telah menyelamatkan, memanggil dan memimpin penulis dengan ajaib sampai hari ini.

Dr. Eddy Peter Purwanto, Ph.D.

LATAR BELAKANG SEJARAH KRITIK ALKITAB
Sang juru bicara pencerahan Prancis, Voltaire, atau yang nama aslinya Francois Marie Arouet (1694-1778) adalah seorang filsuf dengan julukan ‘tawa filosofis’. Mengapa julukan ini diberikan kepadanya? Karena Voltaire menyebarkan gagasan-gagasan filosofinya bukan dengan gaya akademis, namun menggunakan gaya satiris yang penuh rasa humor penuh ejekan. “Dia seorang pejuang universalitas kemanusiaan dan anti-fanatis keagamaan, dan juga anti-metafisika. Dia juga menginginkan sebuah agama Kristen yang sederhana tanpa ornamen mukjizat, dogma dan ritus. Dengan mengejek dia mengatakan bahwa Yesus hanyalah ‘Sokrates dari Udik” yang tak punya tilikan filosofis, dan berbagai mukjizat yang dibuatnya hanyalah rekaan para pengikutnya saja.” Oleh sebab itu tidak heran jika banyak orang Kristen konservatif menyebut Voltaire sebagai anti- Kristus. Namun apakah yang seharusnya mengejutkan kita dari seorang ‘anti-Kristus’ ini? Sebuah anekdot menceritakan, “Seorang tamu Voltaire keheranan melihat Kitab Suci terletak di atas meja tulisnya. Voltaire pun membela diri: “Jika orang ingin memenangkan pengadilan, sebaiknya ia mengenal tulisan-tulisan lawannya agar siap menghadapinya.”

Injil Matius 4: 1-11 mengisahkan bagaimana iblis mencobai Yesus dengan beberapa pernyataan, “seperti ada tertulis” (4:6). Fakta ini memberitahukan kepada kita bahwa iblis dan para pengikutnya, para ‘anti-Kristus’ juga mempelajari Alkitab dengan tujuan mengkritik dan menunjukkan kepada anak-anak Tuhan bahwa Alkitab tidak memiliki otoritas apa-apa, namun hanya sekedar buku biasa yang sedikit istimewa atau bahkan tidak istimewa sama sekali. Ketahuilah jika semangat orang percaya dalam mempelajari Alkitab dan mempelajari bagaimana metode iblis untuk menyerang Alkitab dan iman Kristen tidak lebih besar dari semangat iblis ‘mencari-cari’ cara menanamkan image bahwa Alkitab penuh dengan dongeng dan kesalahan, maka sudah pasti akan banyak jatuh korban di dalam barisan prajurit Kristus.

DUA METODE KRITIK ALKITAB
Ada dua metode kritik Alkitab yang sudah dikembangkan dan bahkan pada zaman modern ini sudah ditetapkan sebagai cabang ilmu dalam ilmu teologi, yaitu “Higher Criticism” dan “Lower Criticism”. Dua cabang ilmu teologi ini kini telah menjadi suatu bidang mata kuliah khusus pada kurikulum pendidikan tinggi teologi di sekolah-sekolah teologi seluruh dunia. Di kalangan sekolah teologi Injili Konservatif menjadikan dua cabang ilmu teologi biblika ini sebagai metode terbaik untuk menemukan ‘kebenaran’ atau ‘keorisinilan’ berita Alkitab, namun di kalangan sekolah teologi Liberal, dua cabang ilmu teologi ini dipelajari untuk dikritik, atau dijadikan dasar untuk menyerang Alkitab.“Higher Criticism” atau “Kritik Tinggi Alkitab” adalah terminologi akademis, yang digunakan sebagai istilah teknis teologi. Istilah ini tidak menunjukkan bahwa “Kritik Tinggi” berarti superioritas, namun istilah yang dipakai sebagai kontras dari frase “Lower Criticism”. Di kalangan sarjana teologi “Higher Criticism” dikenal juga sebagai kritikisme sejarah (historical/ tradition criticism) dan kritikisme sastra (literary criticism), yaitu suatu cabang teologi yang berusaha menyelidiki asal-usul Alkitab, siapakah penulis Alkitab (misalnya: benarkah Musa penulis Kitab Pentetaukh dsb.), dan bagaimana sejarah perkembangan keagamaan P.L. dan P.B.

Para sarjana teologi Liberal menyangkal bahwa 5 (lima) Kitab Musa ditulis oleh Musa. Dengan menerapkan teori “Higher Criticism” yang dikenal dengan istilah “Documentary Hypothesis” mereka menjelaskan bahwa Kitab Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan dan Ulangan bukanlah tulisan Musa, namun merupakan kumpulan sastra atau dongeng dan mitos yang kemudian disusun menjadi kelima Kitab Musa di atas. Mengenai penulis aslinya mereka berpendapat “anonim”. Begitu juga penulis Kitab Yesaya pasal 40-66, juga tidak ditulis oleh Yesaya, tetapi ditulis oleh penulis “anonim” yang diperkirakan seorang nabi sebesar Yesaya. Apa yang menyebabkan pemikiran mereka yang demikian? Karena mereka tidak percaya tentang mukjizat dan nubuatan. Mereka heran bagaimana mungkin Yesaya 45 dapat berbicara tentang Korezy pada saat ayah Korezy saja mungkin belum lahir. Kritik mereka terhadap Kitab Perjanjian Baru dengan gencar ditujukan terhadap Injil Sinoptik (Matius, Markus, Lukas). Dengan menempatkan Injil Markus sebagai Injil pertama, mereka membuat suatu hipotesis (oral tradition transmission, teori dua dokumen, dan teori empat dokumen) bahwa Markus mengembangkan Injilnya dari cerita-cerita rakyat dan dokumen “Q” yang akhirnya dikembangkan lagi oleh Matius dan Lukas. Dalam pengembangan tulisan ini ketiga penulis Injil menambahi dengan imajinasi mereka sendiri tentang pekerjaan besar yang dilakukan Yesus, yang sebenarnya tidak pernah terjadi dalam sejarah aslinya.

Jika benar bahwa Musa bukan penulis Kitab Pentateukh seperti hipotesa mereka di atas, bagaimana dengan pernyataan Yesus bahwa Musalah penulis Kitab Pentateukh (lih. Mark. 7:10; 10:3-5; 12:26; Luk.5:14; 16:29-31; 24:27, 44; Yoh. 5:45-47; 7:19, 23), dan juga para rasul (Yoh. 1:17; Rom. 10:5; Kis. 3:22; 6:14; 1 Kor. 9:9; 2 Kor. 3:15; Ibr. 9:19; Wah. 15:3)? Jika para sarjana modernis yang benar, maka Yesuslah yang salah. Namun Yesus berkata “Akulah… kebenaran” (Yoh. 6:14) dan iman Kristen Konservatif percaya bahwa Dia adalah Tuhan, Juruselamat Manusia, jadi kebenaran hanya ada di dalam Dia, dan di dalam Dia tidak ada dusta. Kalau demikian siapa si pendusta itu? Mereka yang mengambil oposisi melawan Kristus.

Begitu juga, jika Injil Synoptik hanya merupakan pengembangan karya sastra dari dongeng-dongeng rakyat yang dibumbui imajinasi penulis Injil dengan berbagai peristiwa spektakuler, maka Injil Matius, Markus dan Lukas hanya sekedar cerita dongeng dan mitos dari pribadi Yesus, manusia biasa yang pernah hidup layaknya kebanyakan manusia lain – tanpa mukjizat, tanpa peristiwa kebangkitan dsb. – dan sia-sialah kepercayaan kita dan pengorbanan para martir. Lower Criticism yang disebut juga sebagai Textual Criticism adalah “studi teks Alkitab, yaitu termasuk di dalamnya pemeriksaan keaslian manuskrip atau salinan-salinan Alkitab dan versi salinan-salinan, codex- codex dan terjemahan-terjemahan yang bervariasi atau berbeda dan studi ini merupakan suatu usaha mencari yang asli atau yang sama dengan teks aslinya, yaitu teks Authographa yang diinspirasikankan langsung oleh Tuhan.” Adapun para ahli yang menggeluti bidang ini antara lain Beza, Erasmus, Bengel, Griesbach, Lachmann, Tregelles, Thischendorff, Scrivener, Westott, dan Hort.

SEJARAH HIGHER CRITICISM (kritik tinggi)
Sejarah gerakan “Higher Criticism” tidak dapat dipisahkan dari tokoh-tokoh dari tiga kelompok besar, yaitu:
1. Francis-Belanda,
2. Jerman, dan
3. Inggris-Amerika

1. FRANCIS-BELANDA
Dari kelompok “Franco-Dutch” (Francis-Belanda) pandangan yang sekarang diterima sebagai axiomatik oleh para sarjana Kontinental dan Inggris-Amerika, para teolog pertama yang memunculkan gerakan “Higher Criticism” adalah Carlstadt pada tahun 1521 dalam karyanya “Canon and Scripture”, Andreas Masius, seorang sarjana Belgia, yang menerbitkan buku tafsiran kitab Yosua pada tahun 1574, dan Peyrere atau Peririus, seorang Imam Katolik Roma dalam bukunya yang berjudul “Systematic Theology” pada tahun 1660.

Namun demikian pada kenyataannya Spinoza, seorang filsuf rasionalis dari Belanda yang dianggap sebagai orang pertama yang memunculkan teori “Higher Criticism”. Dalam bukunya yang berjudul “Tractatus Theologio- Politicus”, yang diterbitkan pada tahun 1670, Spinoza menolak penanggalan tradisional dan kepenulisan Musa atas kitab PENTATEUKH dan menjelaskan bahwa Pentateukh berasal dari zaman Ezra dan sebagian merupakan suntingan dari tulisan-tulisan yang lebih belakangan. Tokoh yang nama lengkapnya Baruch de Spinoza yang lahir di kota Amsterdam pada tahun 1632 ini akhirnya dikutuk dan dikucilkan dari Sinagoge. “Dia dianggap mati oleh komunitasnya, bahkan seorang Yahudi pernah berusaha menikamnya untuk menyenangkan hati Yahwe.”

BERIKUT INI ADALAH BUNYI KUTUKAN ATAS SPINOZA OLEH SINAGOGA   27 Juli 1656:
“Sesuai dengan keputusan para malaikat dan pernyataan para kudus, kami mengucilkan, mengutuk, melaknatkan dan menghukum Baruch d’Espinoza… Terkutuklah dia di siang hari dan malam hari, terkutuklah dia saat berbaring dan terjaga, ketika dia pergi maupun datang… Jagalah diri kalian sehingga tak seorangpun berhubungan dengannya baik secara tertulis maupun lisan, tak seorangpun menunjukkan itikad baik sedikitpun kepadanya, tak seorangpun tinggal satu atap dengannya… tak seorangpun membaca tulisan-tulisannya”. Spinoza diakui sebagai kepala puncak gerakan ini yang kemudian di Inggris diteruskan oleh filsuf Inggris Hobbes. Dan beberapa tahun kemudian seorang Imam dari Francis, yang bernama “Richard Simon” dari Dieppe, yang menjelaskan bahwa Pentateukh merupakan suntingan dari banyak penulis. Tokoh lainnya adalah seorang Belanda yang bernama Clericus (atau Le Clerk), yang pada tahun 1685 masih membela pandangan yang sangat radikal ini. Ia mengatakan bahwa Pentateukh ditulis oleh para imam setelah pembuangan di Babel (2 Raja. 17) kira-kira tahun 678 SM dan ia juga memunculkan teori redaktur, yaitu Pentateukh merupakan kumpulan tulisan yang kemudian di-edit oleh seorang redaktur menjadi lima Kitab Musa.
Pada tahun 1753, seorang ahli medis Francis yang bernama Astruc mengemukakan teori “Documentary Hypothesis”, yaitu bahwa Pentateukh berupa bahan-bahan yang dikumpulkan dari berbagai dokumen (sumber), dan Musa sebagai redakturnya. Oleh sebab itu Astruc disebut sebagai Bapak “Documentary Hypothesis”.

2. JERMAN
Eichhorn adalah tokoh besar Jerman dalam gerakan ini. Ia adalah seorang professor di Gottingen yang menerbitkan karyanya pada tahun 1780 dengan judul “Old Testament Introduction”. Ia memiliki teori yang agak berbeda dengan gerakan “Documentary Hypothesis” di Francis. Ia mengemukakan bahwa ada dua sumber untuk Pentateukh, yaitu:

1. Sumber J – bagian-bagian yang memakai nama “JEHOVAH” untuk TUHAN, dan
2. Sumber E–bagian-bagian yang memakai nama “ELOHIM” untuk Allah. Tokoh-tokoh Jerman lainnya yang mengikuti langkah Eichhorn adalah Vater dan Hartmann dengan teori fragmennya.
Pada tahun 1806 De Wette, professor Filsafat dan Teologi di Heidelberg mengemukakan tambahan suatu sumber lain lagi, yaitu sumber D – yang mengarang kitab “Deuteronomy” (Kitab Ulangan). Tokoh lainnya adalah Professor Kuenen dari Leyden yang menulis buku “Hexateuch” di-edit oleh Colenso tahun 1865 dan “Reli- gion of Israel and Prophecy in Israel” yang diterbitkan di Inggris pada tahun 1874-1877. Dan akhirnya, namun bukan yang terakhir adalah Jullius Wellhausen, seorang professor dari Jerman yang menulis buku tentang evolusi agama Israel.

3. INGGRIS-AMERIKA
Tokoh British-American yang sangat terkenal adalah Dr. Samuel Davidson yang menulis buku “Introduction to the Old Testament” yang terbit tahun 1862 mengeluarkan teori hipostesis supplemen untuk Pentateukh. Tokoh lainnya adalah Dr. Robertson Smith, orang Scotlandia yang mengajar di Inggris, Dr. S.R. Driver professor bahasa Ibrani di Oxford University dan Dr. C. A. Briggs, yang untuk beberapa waktu lamanya mengajar sebagai professor Teologi Biblika di Union Theological Seminary, New York.

SEJARAH LOWER CRITICISM (kritik rendah)
Pada tahun 1516 Desiderius Erasmus menerbitkan Alkitab Perjanjian Baru bahasa Yunani yang kemudian beberapa kali diterbitkan ulang baik oleh Erasmus maupun Stephanus, Beza dan Abraham- Bonaventure Elzevir. Alkitab ini diterima dan digunakan secara umum oleh gereja di seluruh dunia. Oleh sebab itu, Alkitab ini menjadi “Textum ergo habes, nunc ab omnibus receptum…” atau teks terbitan Elzevir menjadi dikenal di seluruh daratan Eropa dengan sebutan Textus Receptus atau Received Text”. Pada tahun 1611, Kitab ini diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, KING JAMES VERSION atau yang juga terkenal dengan nama AUTHORIZED VERSION/AV 1611.

Pada tahun 1881, dua orang sarjana Liberal dari Cambridge University yang bernama BROOKE FOSS WESTCOTT DAN FENTON JOH ANTHONY HORT mengedit Alkitab Bahasa Yunani Perjanjian Baru yang didasarkan pada manuskrip minoritas, yaitu “Codex Sinaiticus (!) dan Codex Vaticanus "(B)” yang kemudian diterbitkan oleh UNITED BIBLE SOCIETY, yang dikenal dengan nama “Critical Text” atau UBSGNT (United Bible Societ- ies’ Greek New Testament) yang juga diterbitkan kembali oleh Lembaga Alkitab Indonesia dengan versi Diglot Alkitab Dwibahasa Yunani-Indonesia dan NAGNT (Nestle Aland Greek New Testament) yang diterbitkan oleh Nestle dan Aland. Semua Alkitab bahasa Inggris modern atau paska KJV/AV 1611 diterjemahkan dari Alkitab ini.

Ada perbedaan yang hakiki antara Alkitab Bahasa Yunani “Textus Receptus” dan “Critical Text atau UBSGNT” atau “NAGNT”, khususnya dalam penyampaian doktrinal iman Kristen. Oleh sebab itu, munculah para pembela di antara dua Alkitab ini. Di kalangan gereja dan seminari Injili Konservatif membela dan menggunakan “Textus Receptus” dan sementara itu di kalangan gereja dan seminari liberalisme dan bahkan Injili Baru menggunakan “Critical Text”. Perdebatan dua kubu ini akhirnya melahirkan semangat studi teks untuk menentukan Alkitb bahasa Yunani mana yang berotoritas atau yang dipelihara Tuhan dan superioritas. Studi teks inilah yang akhirnya disebut sebagai “Lower Criticism” atau “Textual Criticism”.

Orang-orang yang gigih mempertahankan “Textus Receptus” dari Konservativisme di antaranya adalah Dean William Burgon, Edward F. Hills, D.A. Waite dan lain-lain. Sedangkan pembela “Critical Text” dari kalangan Katolik dan Liberalisme di antaranya ialah Carlo M. Martini (Katolik), Eugene Nida, Bruce Metzger dan Kurt Aland.

KESIMPULAN
Pernahkah anda mengetahui dan memahami sejarah kritik Alkitab di atas? Jika anda sudah pernah atau sekarang ini baru mengetahuinya, apakah anda merasa penting untuk mengetahui lebih jauh lagi? Sementara kita mempelajari Alkitab, Iblis dan pengikutnya juga mempelajari Alkitab dengan maksud untuk menurunkan bahkan menghancurkan otoritas Alkitab. Bayangkan saja jika kita “malas” untuk mempelajari Alkitab lebih dalam lagi.

STTI Philadelphia memiliki visi dan misi untuk memperlengkapi mahasiswa dan gereja Tuhan dengan pemahaman Alkitab secara mendalam dan benar, karena kami sadar peperangan kita menghadapi penyesatan yang akan semakin berat dan memerlukan perlengkapan senjata rohani yang lebih baik lagi dengan kuasa Firman Tuhan. Kami rindu mengadakan seminar-seminar untuk umum, guna mem-perlengkapi semua orang Kristen dalam peperangan rohani ini. Dukungan anda akan menjadi berkat bagi pelayanan dalam memperluas Kerajaan Allah.

                                         














 


a

LOGO






Sola Scriptura