Logo
Oleh-Dara-Nya

 

        

 


 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


KATA PENGANTAR
“Yang manakah teks yang dipelihara Tuhan?” Jika ada dua teks yang berbeda dan saling bertentangan tentulah yang dipelihara Tuhan bukan kedua-duanya, tetapi pasti salah satu dipelihara sedangkan yang lain tidak. Dari dua teks yang dihasilkan di atas ternyata memiliki perbedaan-perbedaan yang menyolok. Yang mana “Critical Text” banyak melakukan penghapusan kata, perubahan arti kata-kata tertentu, ayat-ayat tertentu, maupun bagian-bagian tertentu dalam Alkitab. Critical Text menyerang dokrin Evangelikal/ Injili dan “Textus Receptus” justru sebaliknya, yaitu mempertahankannya dengan gigih. “Critical Text” di-edit dan digunakan oleh orang-orang Liberal, sedangkan “Textus Receptus” di-edit dan digunakan oleh orang-orang Injili atau Konservatif.

MENGUJI KEORISINILAN ALKITAB
Alkitab adalah firman Allah yang Mahabenar. Oleh sebab itu Alkitab harus benar dalam setiap statement maupun pencatatannya. Jikalau ada kesalahan sekecil apapun dalam pencatatan Alkitab ataupun pertentangan-pertentangan antara bagian satu dengan yang lain, maka pemberi Alkitab bukanlah Allah yang Mahabenar. Namun sayang sekali kita tidak memiliki teks Alkitab yang asli (authographa) yang ditulis langsung oleh penulis kitab. Kita hanya memiliki salinan-salinannya. Dan yang menjadi persoalan adalah, dari sekitar 5.000 lebih salinan atau yang biasanya disebut Manuscripts (MSS) tidak memiliki kesamaan yang mutlak dalam penyalinan catatan detail-detailnya. Oleh karena itu, untuk mengedit MSS tersebut dan menjadi sebuah kitab para pengedit harus sungguh-sungguh dipimpin oleh Tuhan, supaya hasilnya adalah firman Allah yang terpelihara otoritasnya.

Di antara para pengedit Alkitab, ada dua kelompok editor yang terkenal, yang mana hasil editannya banyak dipakai oleh orang Kristen di seluruh dunia saat ini. Mereka adalah Westcott-Hort dan Desiderius Erasmus. Westcott-Hort dan pengikutnya menghasilkan Alkitab P.B. yang disebut “Critical Text”, sedangkan Desiderius Erasmus dan pengikutnya menghasilkan kitab P.B. yang disebut “Textus Receptus”.

Dari dua teks yang dihasilkan di atas ternyata memiliki perbedaan-perbedaan yang menyolok. Yang mana “Critical Text” banyak melakukan penghapusan kata, perubahan arti kata-kata tertentu, ayat-ayat tertentu, maupun bagian-bagian tertentu dalam Alkitab. “Critical Text” menyerang dokrin Evangelikal/ Injili dan “Textus Receptus” justru sebaliknya, yaitu mempertahankannya dengan gigih. “Critical Text” di-edit dan digunakan oleh orang-orang Liberal, sedangkan “Textus Receptus” di-edit dan digunakan oleh orang-orang Injili atau Konservatif.

Bertolak dari sinilah saya ingin membandingkan kedua teks tersebut dengan penyelidikan-penyelidikan yang cermat dan hati-hati untuk mendapat jawaban, “Yang manakah teks yang dipelihara Tuhan?” Jika ada dua teks yang berbeda dan saling bertentangan tentulah yang dipelihara Tuhan bukan kedua-duanya, tetapi pasti salah satu dipelihara sedangkan yang lain tidak. Dan tentulah teks yang menyerang berita Alkitab bukanlah teks yang dipelihara oleh Allah yang Mahabenar, tetapi sebaliknya teks yang mempertahankan kemurnian pengajaran Alkitab adalah teks yang dipelihara Allah. Tuhan Yesus berjanji, “Karena Aku berkata kepadamu, sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.”

OTORITAS ALKITAB AUTHOGRAPHA
Otoritas Alkitab ditegaskan oleh doktrin inspirasi Alkitab. Alkitab adalah nafas Allah (2 Tim. 3:16). Kata inspirasi berasal dari kata Yunani “theospneutos.” Ini adalah “Godspiration” dan bukan “manspiration”. Allah memakai para penulis Alkitab untuk menuliskan firman-Nya yang tanpa salah (2 Petr. 1:21). Ada beberapa teori tentang doktrin inspirasi dalam dunia teologi. Namun saya akan memberikan tiga teori utama di sini:

1. Inspirasi alamiah/ natural inspiration
Teori ini mengatakan bahwa Alkitab adalah karya literatur yang tidak ada bedanya dengan karya-karya “Shakespeare”. Karena Alkitab hanya merupakan karya sastra manusia belaka, maka Alkitab harus dipelajari dengan menggunakan metode, analisis dan interpretasi humanistik. John D. Crossan berkata bahwa “Alkitab merupakan campuran mitos, propaganda, dan norma-norma sosial.”

2. Inspirasi sebagian/ partial inspiration
Teori ini mengatakan bahwa tidak seluruh Alkitab diinspirasikan oleh Allah. Hanya bagian-bagian yang mengajarkan tentang iman dan keselamatan saja yang diinspirasikan. Oleh sebab itu ketika berbicara tentang sains, sejarah dan geografi Alkitab bisa salah. Dalam pengertian demikian dapat dikatakan bahwa Alkitab berisi firman Allah, artinya di dalam Alkitab ada yang firman Allah dan ada yang bukan firman Allah, dan merupakan perkataan manusia bahkan mitos atau dongeng.

3. Inspirasi mutlak/ absolute inspiration
Teori ini mengajarkan bahwa Alkitab (66 Kitab) diinspirasikan Allah secara mutlak, dan hasilnya seluruh Alkitab adalah firman Allah yang tidak ada salah atau “absolute inerrancy and infallibility”.
Berbicara tentang inspirasi Alkitab, hanya teks asli ‘autographa’ atau hasil tulisan langsung penulis Alkitab yang diinspirasikan. Salinan Alkitab dan terjemahan Alkitab tidak diinspirasikan.

KEOTENTIKAN DAN PROSES TRANSMISI ALKITAB
Dr. Charles Ryrie mengatakan bahwa saat ini ada lebih dari 5000 manuskrip atau salinan Alkitab Perjanjian Baru yang ada tersimpan, yang mana semuanya merupakan tulisan-tulisan kuno. Dan dalam bagian ini saya ingin memberikan informasi tentang bagaimana proses transmisi atau penyalinan Alkitab ini.

1. Transmisi kitab perjanjian lama
Kitab Perjanjian Lama ditulis dalam kurun waktu 1500 tahun. Dan kitab ini telah dipergunakan oleh umat Allah di sepanjang masa. Seperti halnya Perjanjian Baru, Perjanjian Lama juga mengalami penyalinan dan penerjemahan ke dalam berbagai bahasa untuk dapat diteruskan dari generasi ke generasi. Dr. D.A. Waite, President of Bible For Today, USA dalam bukunya “Defending the King James Bible”, menjelaskan proses penyalinan Perjanjian Lama sebagai berikut:

a. Perkamen yang bersih dipersiapkan hanya dari kulit binatang yang benar-benar bersih.
b. Setiap kolum berisi 48 – 60 baris. Garis-garis dibuat sebelum penyalinan dilakukan.
c. Tinta yang digunakan selalu berwarna hitam, dan dipersiapkan sesuai dengan kebutuhan.
d. Para penyalin tidak diijinkan menyalin berdasarkan ingatan. Ia harus memiliki naskah yang otentik yang akan disalinnya. Sebelum menulis ia harus membaca dan mengucapkan setiap kata. Ini untuk menghindari pengulangan atau penghapusan kata pada waktu penyalinan.
e. Setiap kali ia menuliskan nama Allah (mis. Elohim), ia harus terlebih dahulu mencuci penanya.
Tetapi sebelum menulis nama “YEHOVA” (bahasa Indonesia TUHAN), ia harus memandikan seluruh tubuhnya. Ini menunjukkan betapa mereka sangat menghormati Firman Allah.
f. Hasil salinan akan diperiksa lagi setelah 30 hari penyalinan selesai. Jika ada satu kesalahan pada satu halaman, maka halaman itu harus dihancurkan, dan jika ada tiga kesalahan di beberapa halaman, maka seluruh salinan harus dihancurkan.
Fakta di atas menunjukkan betapa hati-hatinya penyalinan Alkitab Perjanjian Lama, sehingga otoritas dan keotentikannya dapat dijamin.

2. Transmisi kitab perjanjian baru
Periode transmisi Perjanjian Baru memakan waktu 1400 tahun. Ini dimulai dari pengumpulan (abad ke-1) sampai ditemukannya mesin cetak (abad ke-15). Sejarah penyalinan Perjanjian Baru dibagi ke dalam tiga periode, yaitu:

1. Periode papirus (abad ke-1 sampai abad ke-4),
2. Periode uncial (abad ke-4 sampai ke-9), dan
3. Periode minuscule (abad ke-9 sampai ke 15).

A. Periode papirus
Disebut periode papirus karena salinan-salinan kitab ditulis pada lembar-lembar papirus. Ada 88 salinan dalam papirus yang saat ini kita miliki.
Adapun papirus-papirus yang dianggap penting di antaranya ialah:

1. Papirus Perjanjian Baru koleksi Chester Beatty
a. P45, berisi empat Injil dan Kisah Para Rasul, tertanggal dari permulaan abad III
b. P46, berisi Surat-surat Paulus (kecuali surat-surat Pastoral) dan Ibrani, tertanggal dari permulaan abad ketiga yang pada tahun 1930 diedit oleh F.G. Kenyon.
c. P47, berisi kitab Wahyu 9:10-17:2, tetanggal dari abad III

2. P52 yang merupakan manucript tertua Perjajian Baru yang kita miliki. P52 ditemukan di Mesir pada tahun 1920, tetapi tidak diperhatikan sampai 1934. P52 hanya berisi Yohanes 18:31-33,37, tertanggal kira-kira permulaan abad kedua. Injil Yohanes mungkin ditulis di Efesus, tetapi fragmen ini menunjukkan bahwa pernah disalin di Mesir kira-kira A.D. 130. P52 sekarang berada di John Rylands Library, Manchester.

3. Koleksi papirus penting lainnya adalah yang tersimpan di Bodmer Library di Geneva, Switzerland.
a. P66, berisi sebagian besar dari Injil Yohanes yang tertanggal pada pertengahan abad II.
b. P72, berisi Surat Yudas dan dua Surat Petrus dan sejumlah tulisan lain, tertanggal dari abad III.
c. P73, fragmen dari Injil Matius dalam ukuran kecil.
d. P74, berisi Kitab Kisah Para Rasul dan Surat-surat Umum dalam bentuk fragmen, yang ditulis pada abad ketujuh.
e.. P75, berisi Injil Lukas dan Yohanes, yang tertanggal pada akhir abad II.

B. Periode uncial
Disebut periode “uncial atau majuscula” karena pada periode ini penyalinan Alkitab ditulis pada perkamen (terbuat dari kulit binatang) dan ditulis dengan “huruf kapital” semua. Ada 267 uncial Perjanjian Baru yang telah ditemukan yang tertanggal dari abad IV sampai abad X.
Adapun naskah uncial yang sangat penting dari 267 naskah tersebut di antaranya ialah:

1. !, 01, “codex Sinaiticus” dari abad ke IV, yang berisi P.L. dan P.B., yang saat ini berada di British Museum di London. Codex ini dibawa oleh Constantine Tischendorff dari Monastery St. Catherine di gunung Sinai. Mula-mula codex ini dibawa oleh Tischendorff dari gunung Sinai ke Rusia pada tahun 1859, hingga akhirnya dibeli oleh pemerintah Inggris seharga 100.000 Pound Sterling.
2. A (02), codex Alexandrianus, manuscript abad V yang berisi P.B.; kecuali Injil Matius, sebagian Injil Yohanes, dan 2 Korintus, yang berasal dari Mesir dan dibawa ke Inggris pada tahun 1627, pada masa Raja Charles I, oleh seorang patriakh dari Konstantinopel.
3. B. (03), codex Vaticanus yang ditulis kira-kira pada pertengahan abad IV dan berada diperpustakaan
Vatikan sejak abad XV. Aslinya berisi P.L. dan P.B. dan sebagian Apocrypha; kecuali Kitab Kejadian
dan sebagian Mazmur untuk P.L., sebagian Ibrani dan seluruh surat kepada Titus, Timotius, Filemon dan
Wahyu untuk P.B.
4. C (04), codex Ephraemi Rescriptus, adalah manuscript Yunani P.B. yang sangat penting dari abad
V, yang berada di Bibliotheque National of Paris. Codex ini adalah tulisan dari St. Ephraem.
5. D (05), codex Beza, dari abad VI, yang berisi keempat Injil dan Kisah Para Rasul. Codex ini sekarang berada di perpustakaan Cambridge University sejak dibawa ke Universitas tersebut oleh Theodora Beza pada tahun 1581.
6. Dpaul (06), codex Claromontanus, dari abad VI yang berada di Bibliotheque National of Paris
yang berisi surat-surat Paulus dan Ibrani.
7. H (022), codex Parpureus Petropolitanus, yang ditulis dalam huruf-huruf perak pada kulit binatang berwarna ungu, seperti juga codex O (023), S (042) dan F (043). Codex ini berasal dari abad VI.
8. W (032), codex Freerianus, atau Washing-tonensis, dari abad IV atau V. Ini adalah manuscript
Freer Art Gallery dari Smithsonian Institution di Washington D.C., seperti codex D, codex ini berisi empat Injil.
9. 14 (040), codex Zacynthius, yang saat ini berada di perpustakaan British and Foreign Bible Sociaty
di London, yang berisi Injil Lukas dari abad VIII.

C. Periode munuscula
Minuscule adalah manuscript Yunani yang ditulis dengan tulisan tangan atau cursive, maka naskah ini juga disebut “cursive menuscript”. Ada 2.764 minuscula yang terpelihara sampai saat ini.

MUNGKINKAH BISA TERJADI KESALAHAN DALAM PENYALINAN PERJANJIAN BARU?
Sejak manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan mungkin saja waktu menyalinnya ada kesalahan yang ia buat. Kesalahan tersebut bisa terdiri dari dua kemungkinan:

1. Kesalahan yang disengaja, yaitu ketika bidat-bidat Kristen yang muncul di abad permulaan menyalin Alkitab mereka mengadakan penghapusan dan pengubahan kata-kata yang bertentangan dengan doktrin mereka.
2. Kesalahan yang tidak disengaja, yaitu kesalahan yang disebabkan oleh:
a. Salah memenggal kata: Dalam salinan Alkitab mula-mula tidak ada spasi, jadi ketika disalin dengan memberi spasi mungkin saja terjadi kesalahan dalam memenggal kata. Misalnya perhatikan kata berikut ini haveyouseenabundance (sebelum di-salin) dan setalah di salin menjadi “have you seen abundance” mungkin saja bisa salah kerena yang dimaksud adalah “have you seen a bun dance”. Contoh lain kata “Godisnowhere” (sebelum disalin) dan setelah disalin menjadi “God is nowhere” mungkin saja salah karena sebenarnya yang dimaksud adalah “God is now here”.
b.“Tertukar dengan huruf yang mirip”, misalnya dalam bahasa Yunani ada huruf A dan I3, 9 dan 77.
Huruf-huruf tersebut bisa tertukar dalam penyalinan.
c.“Salah menafsirkan” karena teks yang disalinnya tidak otentik. Dalam penulisan Alkitab bahasa Yunani ada kata-kata singkatan, misalnya kata 1E yang berarti “Allah” bisa dianggap ? E yang berarti “Dia”. Kasus ini terjadi dalam 1 Timotius 3:16.
d. Dalam penyalinan mungkin saja kata atau kalimat yang sudah disalin bisa disalin kembali tanpa sengaja.
e. Salah dengar ketika didiktekan

JIKA PROSES PENYALINAN BISA TERJADI KESALAHAN BAGAIMANA MUNGKIN ALKITAB MASIH BEROTORITAS?
Di atas saya sebutkan mungkin saja terjadi kesalahan dalam penyalinan, yaitu kesalahan yang disengaja dan tidak disengaja. Sangatlah tidak bijaksana jika demikian kita langsung mengatakan bahwa Alkitab tidak berotoritas lagi karena kemungkinan kesalahan. Kita harus ingat kita memiliki 5000 lebih salinan yang tersimpan saat ini dan ahli-ahli studi tekstual telah berusaha untuk menyaring salinan-salinan tersebut sampai menemukan salinan yang tidak mengandung kesalahan. Para teolog Injili Konservatif mengakui bahwa salinan yang kemudian menjadi Alkitab lengkap Perjanjian Baru bahasa Yunani yang diterbitkan oleh “Trinitarian Bible Society” sebagai teks yang superior. Bukankah Tuhan berfirman, “Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.” (Matius 5:18).

                                      















 


a

LOGO






Sola Scriptura