Logo
Oleh-Dara-Nya

 

        

 


 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



Allah berjanji akan memelihara Firman-NYA

KATA PENGANTAR

Kualitas terjemahan Alkitab ditentukan oleh metodologi penerjemahan. Metode “formal/ verbal Equivalen” menggunakan pendekatan literal dengan menerjemahkan setiap kata dalam bahasa aslinya ke dalam kata-kata terjemahan yang sesuai dengan kata dalam bahasa aslinya. Metode terjemahan ini disebut juga terjemahan literal atau kata per kata. Metode ini adalah metode yang alkitabiah. Metode penerjemahan Alkitab dinamik equivalen relatif baru. Pendekatan “dinamik equivalen” pada kenyataannya bukanlah terjemahan Alkitab, tetapi interpretasi atau penafsiran Alkitab. Terjemahan tidak didasarkan pada teks bahasa aslinya, tetapi bergantung pada pikiran penerjemahnya. “Dinamik equivalen” menggantikan pikiran Allah dengan pikiran manusia. Menafsirkan menurut pikiran atau pandangan teologia mereka. Sehingga dengan demikian bukan penerjemah tunduk pada Alkitab yang diterjemahkan, namun Alkitab harus tunduk kepada pikiran penerjemah.

METODE PENERJEMAHAN ALKITAB

Dengan mengutip Pengakuan Iman Westminster, Dr. Jeffrey Khoo menjelaskan, Aslinya Allah memberikan Perjanjian Lama dalam bahasa Ibrani dan Aramik, dan Perjanjian Baru dalam bahasa Yunani. “Namun oleh karena bahasa asli ini tidak dipahami oleh setiap umat Tuhan, yang benar- benar tertarik untuk mempelajari dan meneliti Alkitab dengan rasa takut akan Tuhan, maka Alkitab harus diterjemahkan ke dalam setiap bahasa yang mudah dipahami (“bahasa “umum” atau “bahasa daerah”) oleh setiap bangsa di mana Alkitab itu berada, agar Firman Allah tinggal dengan kelimpahan bagi semua orang, sehingga mereka boleh memuji-Nya dengan cara yang dapat diterima; dan melalui kesabaran dan peng-hiburan Alkitab memberikan mereka pengharapan.“The Almanac of the Christian World” (1991-2 ed) telah memberikan statistik terjemahan Alkitab sebagai berikut:

1. beberapa bagian Alkitab saja: 889 bahasa,
2. hanya Perjanjian Lama atau dan Perjanjian Baru saja: 715, dan,
3. Alkitab secara keseluruhan (PL & PB lengkap) 314.

Dr. Khoo menegaskan bahwa “kita harus mengucap syukur kepada Tuhan karena penerjemahan firman Allah ke dalam berbagai bahasa di dunia. Tentunya ini merupakan bagian dari penggenapan Amanat Agung Kristus bagi jemaat-Nya dalam Matius 28:18-20. Bagaimanapun juga, gereja harus melihat bukan hanya segi “kuantitas” terjemahan saja, tetapi juga “kualitas” terjemahannya. Kualitas terjemahan ditentukan oleh metodologi penerjemahan.”

Metode penerjemahan

Formal/verbal Equivalen
Metode ini menggunakan pendekatan literal dengan menerjemahkan setiap kata dalam bahasa aslinya ke dalam kata-kata terjemahan yang sesuai dengan kata dalam bahasa aslinya. Metode terjemahan ini disebut juga terjemahan literal atau kata per kata. Metode ini adalah metode yang alkitabiah, karena Alkitab sendiri — misalnya menerjemahkan kata Ibrani P.L. ke dalam kata Yunani P.B. – menggunakan metode verbal atau kata per kata ini. Contoh: ketika Matius 1:23 menerjemahkan kata Ibrani Immanu El dalam Yesaya 7:14 secara literal, yaitu Mth’ hemon ho theos. Contoh lain adalah Matius 27:46, Eli, Eli, lama sabakhtani” diterjemahkan oleh Matius dengan “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Sejak kami percaya bahwa Alkitab diinspirasikan Tuhan secara verbal (kata per kata), “plenary” (langsung), historikal (sesuai dengan sejarah), dan “grammatical” (lengkap dengan tata bahasanya), maka kami juga percaya bahwa metode terjemahan Alkitab yang alkitabiah adalah dengan menggunakan metode yang sama dengan bagaimana Alkitab di-inspirasikan, yaitu secara formal atau verbal atau kata per kata. David Cloud berkata, “Ada dua hal yang harus menjadi syarat terjemahan Alkitab yang benar. Yang pertama adalah bahwa ia harus diterjemahkan dari teks Ibrani dan Yunani yang benar. Dan yang kedua harus menggunakan metode penerjemahan yang benar.”

Dinamik Equivalen
David Cloud berkata, “Ada dua kompetisi teks Yunani hari ini (Received Text yang mejadi dasar Alkitab-Alkitab Reformasi misalnya Luther dari Jerman dan Alkitab bahasa Inggris King James vs. Westcott-Hort teks yang menjadi dasar terjemahan mayoritas Alkitab Bahasa Inggris modern sejak pertengahan abad ke –19), ada juga dua kompetisi metodologi penerjemahan. Yang pertama adalah metode literal atau formal equivalen, yang mana metode inilah yang digunakan untuk menerjemahkan Alkitab pada zaman Reformasi yang salah satunya adalah KJV, dan kedua adalah metode dinamik equivalen. Mayoritas Alkitab bahasa Inggris modern seperti misalnya New International Version, Today’s English Version, dan Contemporary English Version menggunakan metode dinamic equivalen dengan menggunakan teks Yunani yang salah. Sedangkan Alkitab Bahasa Inggris Modern seperti New American Standard Bible dan English Standard Version menggunakan metode terjemahan literal namun dari teks Yunani yang salah.”
Metode penerjemahan Alkitab dinamik equivalen relatif baru. Metode ini mulai dikembangkan beberapa dekade yang lalu yang dilakukan oleh para misionaris di Asia Selatan pada tahun 1980-an. Metode baru ini juga disebut “common language translation,” “idiomatic translation,” “impact translation,” “indirect transfer translation,” “functional equivalency,” and “thought translation.” Walaupun ada beberapa perbedaan kecil, namun secara praktis semua itu sama. Metode ini bisa dikatakan sebagai metode penerjemahan secara bebas atau penyaduran.
Pendekatan “dinamik equivalen” pada kenyataannya bukanlah terjemahan Alkitab, tetapi Interpretasi atau Penafsiran Alkitab. terjemahan tidak didasarkan pada teks bahasa aslinya, tetapi bergantung pada Pikiran PENERJEMAHNYA.

Seperti apakah metode penerjemahan dinamik equivalen ini? Sebagai contoh nyata dapat kita lihat dari hasil penerjemahan dengan metode ini atas Alkitab Bahasa Indonesia Sehari-hari yang sepertinya diterjemahkan dari “Good News For Modern man or the Today’s English Version” (1966), misalnya ketika BIS menerjemahkan kata “darah” (Yunani ‘haima’) yang berhubungan dengan karya penebusan Kristus dengan kata ‘kematian’, dan bukan ‘darah’ (Kis. 20:28; Roma 3:25; 5:9; Ef. 1:7, 2:13; Kol. 1:14, 20; 1 Petr. 1:19; Why. 1:5, 5:9). Mengapa BIS atau TEV menerjemahkan ‘haima’ dalam ayat-ayat tersebut dengan ‘kematian’, pada hal arti literalnya adalah ‘darah’? Jawabannya adalah karena penerjemah telah memiliki konsep bahwa kita diselamatkan bukan oleh ‘darah Kristus’, tetapi oleh ‘kematian Kistus’. Jadi kita lihat disini metode penerjemahan dinamik equivalen tidak menerjemahkan dari kata dalam bahasa aslinya, namun menafsirkan menurut pikiran atau pandangan teologia mereka. Sehingga dengan demikian bukan penerjemah tunduk pada Alkitab yang diterjemahkan, namun Alkitab harus tunduk kepada pikiran penerjemah. Oleh sebab itu, saya menolak metode “dinamik equivalen”. David Cloud menunjukkan beberapa kesalahan utama dari metode ini, sebagai berikut:

Pertama, dinamik equivalen diciptakan oleh guru palsu, yaitu “Eugene Nida”. Ray Van Leeuwen mengobservasi, “... jika kamu membaca Alkitab yang diterjemahkan pertengah abad yang lalu, kamu mungkin membaca Alkitab yang dipengaruhi oleh Nida.” Eugene Nida adalah “Executive Secretary of the Translations Department of the American Bible Society” dari tahun 1946 sampai 1980. Ia telah melakukan perjalanan ke lebih dari 85 negara dan membandingkan karya terjemahan Alkitab lebih dari 200 bahasa yang berbeda. Nida percaya bahwa Alkitab “tidak sempurna” dan bahwa wahyu Allah bukanlah “kebenaran absolut,” bahkan dalam Alkitab bahasa aslinya. Ia mengingkari pandangan bahwa Alkitab ditulis “dalam pimpinan Roh Kudus.” Nida mengklaim bahwa kebenaran Alkitab adalah terbatas dan relatif. Nida menyetujui klaim kaum modernis bahwa darah Kristus sesungguhnya tidak menyucikan dosa tetapi “hanya sekedar lambang pembayaran” Nida juga mengklaim bahwa darah Kristus hanya sekedar simbol dari “kematian yang disebabkan oleh kejahatan” atau “violent death” dan bukan pendamaian yang ditawarkan Allah bagi dosa. Nida bekerjasama dengan Robert Bratcher yang mengubah kata “darah” dengan “kematian” dalam terjemahan Alkitab “Today’s English Version”. Sebagian besar promotor “dinamik equivalen” adalah para sarjana sesat dari “United Bible Societies”, yang didominasi oleh teologi modernis.
Kedua,  “dinamik equivalen” mengingkari natur Alkitab.

Pertama,Alkitab adalah wahyu dari sorga. Lihat Galatia 1:11-12; 2 Petr. 1:21. Oleh sebab itu ini adalah Firman Tuhan, bukan firman manusia.
Kedua, Alkitab diinspirasikan secara verbal atau kata per kata. Lihat 1 Kor. 2:12-13; Mat. 5:18; Kis. 1:16. Ini berarti bahwa setiap kata dan detail Alkitab adalah penting. Penulis Alkitab tidak memberikan ide-nya sendiri dan kemudian menjadikannya sumber penulisan mereka. Setiap kata dan huruf berasal dari inspirasi Allah.
Ketiga, Alkitab berisi pengajaran yang dalam tentang Allah. Bahasa Alkitab mampu mengkomunikasikan kebenaran ilahi dan kekal. Bahasa Alkitab tidak dapat dibandingkan dengan karya-karya tulis manusia yang tidak diinspirasikan. (1 Kor. 2:10). Ini adalah wahyu Ilahi dan berisi kebenaran tentang Tuhan. Teori “dinamik equivalen” dibangun oleh orang yang tidak mempertahankan pengajaran alkitabiah. Jadi ketika seseorang percaya bahwa Alkitab adalah firman Tuhan yang berotoritas sungguh tidak masuk akal kalau ia menerima sistem penerjemahan Alkitab dengan “metode dinamik equivalen” ini.“Alkitab adalah firman Allah tertulis yang diilhamkan. Oleh sebab itu penerjemah Alkitab harus menerjemahkan apa adanya dari teks itu: karena bukanlah urusan atau haknya untuk menafsirkan atau membuat lebih jelas.” Karena itu tugas penafsir Alkitab atau pengkotbah, dan bukan tugas penerjemah.
Keempat, dinamik equivalen mengabaikan peringatan Tuhan untuk tidak menambah atau mengurangi Firman Tuhan. (Amsal 30:5-6; Yer. 26:2; Ul. 4:2; Yeh. 3:10-11).
Kelima, “dinamik equivalen” menggantikan pikiran Allah dengan pikiran manusia. Penerjemahan dinamik equivalen banyak mengubah firman Tuhan. Mereka menerjemahkan bukan berdasarkan apa yang ada pada Alkitab bahasa aslinya, tetapi menyesuaikan dengan ‘pemikiran teologinya sendiri’. Perhatikan contoh-contoh berikut ini:

Rom. 3:25—“blood” (KJV) menjadi “death” (TEV).
Yesaya 1:18—“Snow” (KJV) menjadi “Coconut” (United Bible Societies translation). Yakobus 1:17—“the Father of lights” (KJV) menjadi “God, the Creator of the heavenly lights” (TEV).
Efesus 1:17—“the Father of glory” (KJV) menjadi “the glorious Father” (TEV). “Lamb” menjadi “seal pup” (Wycliffe translation in Eskimo). “Fig tree” menjadi “banana tree” (Wycliffe translation).
Keenam, “dinamik equivalen” membuat kerancuan antara penerangan rohani (spiritual enlightenment) dan pemahaman alami (natural understanding). Alkitab mengajarkan bahwa manusia tidak dapat memahami firman Tuhan tanpa pertolongan Tuhan. (1 Kor. 2:14-16; Yoh. 16:8-13; Mat. 13:9-16; Luk. 24:44-45; Kis. 11:21; 16:14; Amsal 1:23). Penganut “dinamik equivalen” gagal melihat akar ketidakmampuan manusia memahami wahyu Allah, yaitu oleh karena kebutaan rohaninya, bukan karena kultur pembaca yang berbeda dengan Alkitab atau kurangnya pendidikan pembacanya, sehingga terjemahan harus dibuat “sesederhana” mungkin, bahkan kalau perlu tidak sama dengan bahasa aslinya tidak apa-apa, asalkan inti pengajaran ‘teologinya’ (teologi penerjemah) dapat dimengerti pembaca.
Ketujuh, “dinamik equivalen” membuat kerancuan antara penerjemahan dan penginjilan atau pengajaran. Seharusnya tugas penerjemah adalah menerjemahkan apa adanya dari teks Alkitab bahasa aslinya, dan tugas untuk membuat Alkitab dimengerti oleh seseorang adalah tugas penginjil dan pengajar Alkitab. Sebagai contoh Alkitab, ketika sida-sida Etiopia tidak memahami Alkitab yang dibacanya, Tuhan mengutus Filipus untuk menjadi penginjil dan pengajar untuk menjelaskan Alkitab sehingga dapat dimengerti oleh sida-sida itu (Kis. 8:26-33).
Kedelapan, “dinamik equivalen” lebih membuat seseorang tidak memahami firman Tuhan dari pada membuat seseorang semakin memahami kebenaran firman Tuhan. Memahami “pikiran” penerjemah atau “teologi” penerjemah mungkin, tetapi memahami pikiran dan pengajaran Tuhan tidak.
Kesembilan, “dinamik equivalen” membuat kerancuan antara inspirasi dan translasi. Mereka berpikir bahwa Tuhan memberikan firman-Nya hanya untuk orang-orang yang hidup sezaman dengan penulis Alkitab, sehingga untuk saat ini sudah tidak cocok. Oleh sebab itu, mereka ingin menghadirkan firman Allah yang cocok dengan zaman ini. Mereka berpikir bahwa kita harus memiliki firman Allah yang cocok untuk zaman ini. Di sini seakan mereka mengharapkan firman Allah yang baru, inspirasi Allah yang baru. Itulah sebabnya mereka menjadikan rancu antara inspirasi dan translasi (terjemahan). Ryken berkata:

Penulis Alkitab menulis bukan untuk hari ini. Mereka menulis untuk millenium yang lalu… Kita tidak mau berspekulasi terhadap Alkitab. Kita harus menjadikan Alkitab sebagai dasar yang pasti. Apa yang pasti adalah apa yang para penulis Alkitab telah katakan dan tuliskan.”
Kesepuluh, “dinamik equivalen” merupakan usaha yang imposibel. Kita tahu bahwa “dinamik equivalen” mencoba menulis kembali (re-write) Alkitab untuk zaman ini, yang tidak mungkin dapat dilakukan. Karena satu alasan bahwa mereka ingin Alkitab dapat dipahami oleh pembaca sesuai dengan kultur mereka dengan mengorbankan pengertian sebenarnya dari teks aslinya dengan mengubah arti yang sebenarnya, maka mustahillah usaha mereka untuk dapat membuat pembacanya mengerti firman Tuhan. Kalau toh mereka mengerti, yang dimengerti adalah ‘pikiran’ atau ‘teologi’ penerjemah, bukan firman Allah.

Perhatikan pernyataan thomas headland berikut ini:
Tujuan penerjemahan Alkitab adalah membuat terjemahan tersebut dapat dimengerti oleh kultur yang menjadi target [penginjilan] tanpa mereka harus mempelajari budaya Yahudi-Yunani, namun pada saat yang sama mempertahankan keunikan historical pengajaran Alkitab tidaklah mudah. Headland berkata itu tidaklah mudah. Namun menurut David Cloud ia salah, karena bukan ‘tidak mudah’, tetapi ‘tidak mungkin’. Allah telah memilih untuk menyampaikan firman-Nya dengan “framework” kultur Yahudi- Yunani, dan jika anda mengubah Alkitab untuk disesuaikan dengan kultur pembacanya supaya dapat dimengerti tanpa mempelajari kultur itu, anda memiliki Alkitab yang korup. Walaupun para penganut “dinamik equivalen” memberikan klaim-klaim sebagai berikut:

Pertama, 
Dalam Bible Translations for Popular Use, terbitan “United Bible Societies”, William Wonderly mengklaim bahwa terjemahan-terjemahan Alkitab dengan metode dinamik equivalen sesuai dengan teks aslinya:
“Terjemahan-terjemahan yang disebutkan di atas (TEV, Living Bible, Spanish Popular Version, French common version, and the Today’s Dutch Version, dsb.) menggunakan bermacam-macam teknik untuk menghasilkan terjemahan yang lebih mudah dipahami oleh pembaca, di satu sisi masih berada pada batas-batas ke-sesuaian dengan teks aslinya, dan di sisi lain memberikan terjemahan yang gampang dimengerti. (hal. 75).
Kedua, “Alkitab “Today’s English Version” adalah terjemahan terbaru yang mengutama-kan kejelasan dan ke-akuratan teks aslinya dalam kata-kata yang gampang dimengerti oleh semua orang yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa komunikasi.” (Kata Pengantar, Holy Bible Today’s English Version with Deuterocanonicals/ Apocrypha, American Bible Society, 1978).
Ketiga, “Contemporary English Version” mengklaim sebagai berikut:
“Setiap usaha yang telah dibuat untuk menghasilkan teks yang setia dengan arti dalam teks aslinya dan yang dapat dibaca dengan mudah dan dipahami oleh pembaca di sepanjang masa.” (“Translating the Contemporary English Version,” Bible for Today’s Family New Testament, American Bible Society, 1991).
Keempat, Ken Taylor, penerjemah “the Living Bible”, mengklaim bahwa:
“Kami mengambil pikiran original dan mengubahnya ke dalam bahasa sehari-hari. Dengan cara ini kami dapat menjadikan ini lebih akurat dari pada terjemahan kata perkata.” (Evangelism Today, Dec. 1972).
Namun pada kenyataannya klaim-klaim di atas hanya merupakan iklan bisnis belaka. Jika kita mencoba membandingkan hasil terjemahan-terjemahan di atas, kita akan menemukan banyak perbedaan, penambahan dan pengurangan serta pengubahan arti yang sebenarnya dari teks asli Alkitab.

Kesebelas, dinamik equivalen didasarkan pada ‘kebenaran yang tidak penuh’ atau “half-thruts”. Mengapa demikian? Karena pada kenyataannya kebenaran Allah digantikan dengan kebenaran manusia. Pikiran Allah digantikan dengan pikiran manusia. Perkataan Allah digantikan dengan perkataan ‘teologis’ manusia.
Keduabelas, “dinamik equivalen” tidak mampu menjawab masalah yang sangat riil. Penerjemah Alkitab dan misionari, Lynn Silvernale berkata: “Bagaimana kamu berbicara tentang domba kepada orang yang belum pernah melihat domba dan tidak memiliki kata dalam bahasa mereka untuk nama binatang itu? Apa yang kamu gunakan untuk menerjemahkan kata ‘wine’ dalam bahasa yang hanya memiliki kata “grape juice” dan “strong liquer”? Bagaimana mengekspresikan term teologikal dan konsep tentang ‘pembenaran’ (‘righteousness),’ “justifikasi” (justifi- cation), ‘pendamaian’ (propitiation) adalah kesulitan-kesulitan besar lainnya yang dihadapi oleh penerjemah. Dalam bahasa beberapa suku, konsep ini asing dan tidak ada term yang cocok untuk mengekspresikannya. Itulah sebabnya para penerjemah memerlukan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun- tahun untuk menemukan term yang cocok ke dalam bahasa mereka untuk mengabstraksikan seperti ide tentang “kasih” dan “kesucian”’. Untuk memperoleh ide tentang hal-hal ini, misalnya mencoba untuk menjelaskan term “pendamaian” (propitiation) dalam waktu lebih cepat, cara yang paling mungkin bagi penerjemah adalah dengan memasukkan bahasa yang tidak sama dengan term itu. (Silvernale, By the Word).
David Cloud berkata:

“Masalah-masalah yang ditunjukkan di atas dapat membuat “dynamic equivelance” terlihat memperoleh pembenaran atau memiliki alasan. Ini adalah masalah yang sering dihadapi oleh penerjemah Alkitab dan misionaris belakangan ini yang kemudian menghasilkan konsep tentang “dynamic equivalence”, yaitu dengan mengubah firman Allah agar dapat menembus kultur sasaran misi sebagai solusinya.” David Cloud menegaskan kembali bahwa jika tidak ada kata yang dapat dipakai untuk menerjemahkan kata-kata Alkitab ke dalam suatu bahasa tertentu, lebih baik jangan menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa itu. Karena siapa yang memberi ijin seseorang untuk mengubah firman Tuhan? Alkitab berkata, “Semua firman Allah adalah murni. Ia adalah perisai bagi orang-orang yang berlindung pada-Nya. Jangan menambah firman-Nya, supaya engkau tidak ditegur-Nya dan dianggap pendusta.” (Amsal 30:5-6)
Ketigabelas, “dinamik equivalen” menyalahi kaidah proses penerjemahan yang sah. Sejak “dinamik equivalen” mengijinkan penerjemah untuk menerjemahkan kata-kata dalam Alkitab secara bebas, ini menyalahi kaidah proses penerjemahan yang sah. Coba perhatikan dan bandingkan bagian pertama dari 1 Tesalonika 1:3 dalam terjemahan Alkitab “King James Version” yang diterjemahkan secara literal atau “formal equivalence” dengan Alkitab “New Living Bible, Today’s English Version”, dan “Contemporary English Version” yang diterjemahkan secara bebas atau “dinamik equivalen” berikut ini:

KJV “...your work of faith, and Labour of love...” NLB (New Living Bible) “...your work produced by faith, your labor prompted by love...” TEV (Today’s English Version) “... how you put your faith into practice, how your love made you work so hard...” CEV (Contemporary English Version) “... your faith and loving work...” Jelas hasil terjemahan di atas memiliki pengertian yang jauh berbeda. Oleh sebab itu, hasil terjemahan dinamik equivalen (NLB, TEV, CEV) lebih tepat dikatakan tafsiran Alkitab (yang belum tentu benar) dari pada disebut terjemahan Alkitab. Betapa bahayanya jika seseorang menggunakan Alkitab tersebut kemudian menafsirkan kembali - karena sebenarnya yang ditafsirkan bukan Alkitab, melainkan tafsiran Alkitab, sedangkan tafsirannya belum tentu benar – dan mengajarkan kepada orang lain. Seharusnya ini menjadi pertimbangan setiap penerjemah Alkitab. Jangan mengambil resiko yang lebih besar hanya untuk menyelesai-kan masalah yang lebih kecil.


                                

















 


a

LOGO






Sola Scriptura