Logo
Oleh-Dara-Nya

 

        

 


 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Renungan:  Kebahagiaan yang sejati

Banyak orang mendambakan kebahagiaan berupa kelegaan dari penderitaan, lepas dari berbagai lepas dari berbagai kesulitan hidup, dan hidup serba berkecukupan. Apa benar semua itu mendatangkan kebahagiaan yang sejati? Kebahagiaan seseorang terkait erat pada relasinya dengan Tuhan. Karena Tuhan adalah sumber hidup maka hanya dengan memiliki persekutuan intim dengan Tuhan, seseorang bisa menikmati hidup ini dan puas. Sebaliknya orang yang bergaul intim dengan Tuhan tak mungkin bisa menikmati pergaulan dengan orang berdosa apalagi ikut-ikutan dalam kehidupan dosanya (ayat 1).

DaIkut-ikutan cara hidup orang berdosa hanya membawa seseorang semakin jauh dari kebenaran. Ayat 1 mengungkapkan bagaimana pergaulan yang sembarangan, dengan cepat merusak kebiasaan baik. Mulai dengan mendengar bujukan (berjalan menurut nasihat orang fasik), lalu mulai menjadi kebiasaan (berdiri di jalan orang berdosa), tahu-tahu sudah menjadi bagian dari kumpulan perencana kejahatan (duduk di kumpulan pencemooh). Dengan kata lain, mulai dengan mengikuti ajakan orang untuk berdosa, berujung pada ikut mengajak orang lain untuk berdosa! Apa yang mungkin dituai oleh orang yang hidup dalam keberdosaan? Tidak ada yang bernilai kekal yang bisa ditabung untuk masa depan (ayat 4). Bahkan kebinasaan menjadi akhir tragis bagi mereka (ayat 6b) !

Kebahagiaan apa yang bisa dinikmati orang yang bergaul dengan Tuhan? Kepuasan sejati karena tahu hidupnya berhasil di mata Tuhan, yaitu seperti pohon yang tumbuh subur menghasilkan buah yang baik dan lebat. Siapakah yang disenangkan kalau bukan pemiliknya sendiri? Juga kepuasan yang tidak dapat pudar karena tahu hidup yang menghasilkan buah itu adalah hidup yang Tuhan pakai untuk memberkati orang lain. Hidup ini menjadi bermakna saat orang lain mengenal Yesus karena hidup kita. (Sumber transkrip: Santapan Harian)

Tafsiran dari Wycliffe:

Jalan Orang Saleh. Berbahagialah orang. Kitab Mazmur diawali dengan sebuah seruan yang kuat, Betapa bahagianya orang yang mengikuti rencana Allah. Orang semacam itu senantiasa merenungkan atau menggumamkan ajaran Allah. Sebagai hasilnya, dia menjadi makin seperti "pohon yang ditanam" dengan akar-akar di dalam realitas abadi. Ia pasti terus memiliki vitalitas dan dijamin akan berhasil pada akhirnya sebab ia telah mengandalkan Allah secara kokoh. Jalan Orang Fasik. Bukan demikian orang fasik. Kini terjadi sebuah perubahan mendadak dengan pemakaian istilah bukan demikian. Kontras yang tajam menjadi makin kentara melalui berkali-kali pemakaian istilah untuk orang fasik ini. Berbeda dengan pohon yang tertanam dengan kokoh, orang fasik hilang. ditiup angin. Yang digambarkan adalah tempat pengirikan di sebuah bukit di mana angin dapat memisahkan sekam dari gandum. Sementara Allah mengenal atau memperhatikan jalan orang benar, orang fasik hanya ikut arus saja hingga akhirnya binasa.

             
















 


a

LOGO






Sola Scriptura