Logo
Oleh-Dara-Nya

 

        

 


 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Renungan:  Sorot pandang Allah

Orang-orang yang menjalani kehidupan yang menentang Tuhan adalah orang-orang yang bebal. Dalam sorot pandang Allah di kemuliaan-Nya, orang-orang demikian sama seperti orang yang tak berakal budi. Sikap dan tindakan mereka bisa menyebabkan orang benar menderita. Namun orang benar harus belajar menilai hidup ini dari sorot pandang Allah, bukan dari apa yang dialami langsung.

Kebebalan orang fasik terlihat dalam dua hal: mencemooh hukum Allah (1-3) dan menganiaya umat Allah (4-6). Mengapa mereka berani berbuat demikian? Karena mereka berpikir "Tidak ada Allah" (1). Dalam zaman purba, semua orang percaya bahwa allah ada. Bahkan bangsa-bangsa di sekitar Israel menyembah banyak allah. Jadi pernyataan bahwa "tidak ada Allah" berarti anggapan bahwa Allah tidak akan ikut campur dalam kehidupan manusia. Karena itu mereka merasa bebas melakukan segala kejahatan yang melanggar hukum Allah. Namun salah besar bila mereka mengira bahwa Allah tinggal diam, terlebih ketika mereka memperlakukan umat-Nya secara keji (4). Mereka akan terkejut karena penghakiman Allah akan menimpa mereka (5-6). Allah akan melindungi dan memulihkan umat-Nya (7).

Mungkin muncul pertanyaan, "Mengapa Allah tidak langsung saja menghindarkan umat-Nya dari kejahatan? Apakah Ia lalai?" Tentu tidak. Namun Allah mau melatih umat-Nya untuk menjadi "cerdik seperti ular" (Mat. 10:16). Jika Allah selalu turun tangan ketika orang fasik menipu dan menjahati orang benar, maka umat Allah akan jadi orang yang tak berhikmat dan tak berdisiplin sebab tidak belajar hidup sesuai prinsip kebenaran. Namun bukan berarti bahwa Allah tidak akan campur tangan. Sebab akhirnya Allah akan menghukum orang fasik dan memulihkan umat-Nya.

Pemahaman ini kiranya menolong kita untuk bijak dalam bertindak menghadapi orang-orang fasik, sambil menantikan pertolongan Allah. Jangan takut hidup benar sebab Allah peduli atau akan menolong serta melindungi kita, umat-Nya. (Sumber transkrip: Santapan Harian)

Tafsiran dari Wycliffe:

Penghakiman karena menyangkal Allah. Pemakaian kata bebal (nabal) membuktikan bahwa yang mengucapkan itu bukan sekadar seorang ateis dalam teori, tetapi juga dalam kenyataannya; orang seperti ini hidup seolah-olah tidak ada Allah. Orang-orang yang kurang memiliki kesadaran akan Allah, mereka menjadi orang-orang yang melakukan kejahatan. Bukannya memimpin umat Allah, mereka justru mengganyang umat Allah. Angkatan yang benar jelas merujuk pada umat-Ku, sementara orang yang tertindas mempunyai tempat khusus untuk berlindung kepada Allah. Harapan akan Kelepasan.
















 


a

LOGO






Sola Scriptura