Logo
Oleh-Dara-Nya

 

        

 


 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Renungan:  Menikmati hadirat Allah

Pertanyaan pemazmur adalah ungkapan hasrat terdalam orang beriman. Di dalam hidup para pahlawan iman sepanjang sejarah gereja, kita menjumpai pergumulan yang sama: bagaimana mengalami hadirat Allah, yakni hubungan yang teramat intim dengan Allah di dalam keseharian.

Pemazmur menyebut sembilan kondisi positif dan negatif agar orang beriman dapat menikmati hadirat Allah. Ia hidup benar dan dapat dipercaya. Ia berlaku adil (ayat 2). Uang tidak menempati kedudukan yang terutama di dalam hidupnya sehingga ia tidak akan menjual keadilan dengan menerima suap (ayat 5). Ia pun bisa mengendalikan perkataannya dengan hanya mengatakan kebenaran (ayat 2), tidak menyebarkan fitnah (ayat 3), dan menepati janji walau untuk itu ia harus bayar harga (ayat 4c, band. Pkh. 5:1-7). Ia tidak memandang remeh orang lain, melainkan memperlakukan mereka dengan hormat (ayat 3-4). Ia tidak segan mengulurkan tangan pada orang yang membutuhkan pertolongan, serta tidak memanfaatkan hal itu untuk menarik keuntungan (ayat 5). Ia menjauhi orang fasik dan berkawan dengan orang yang takut akan Tuhan (ayat 4a-b). Memang orang yang rindu untuk hidup akrab dengan Allah harus memiliki ungkapan sikap dan tindakan kebaikan maupun ungkapan sikap dan tindakan yang menghindari kejahatan.

Meski dari zaman ke zaman manusia seolah makin mandiri dan merasa tak perlu Tuhan, tetapi Tuhan menciptakan manusia dengan hati yang dipenuhi kebutuhan untuk bersekutu akrab dengan Tuhan. Oleh karena itu orang yang telah diperdamaikan dengan Allah oleh Yesus Kristus tidak boleh tidak memiliki hubungan intim secara nyata dan berkesinambungan dengan Allah. Persekutuan akrab dan pengalaman menikmati hadirat Allah secara nyata membuat kita hidup dengan kedalaman, juga membuat kita mampu membawa dampak rohani bagi dunia yang jauh dari Tuhan.

Maka milikilah disiplin saat teduh dan doa secara teratur juga kerinduan agar melalui berbagai alat anugerah-Nya, kita sungguh hidup di dalam kemah-Nya. (Sumber transkrip: Santapan Harian)

Tafsiran dari Wycliffe:

Mazmur ini membicarakan syarat-syarat moral dan etis, agar seorang penyembah boleh masuk ke hadirat Allah. Di sini tercermin kebiasaan zaman dulu untuk menantang kemampuan seorang penyembah. “Orang yang hidup . . . .” Soal integritas dan kebenaran berhubungan dengan kewajiban manusia kepada Allah, sementara kejujuran dan kebajikan-kebajikan selebihnya merujuk pada kewajiban manusia kepada sesamanya. Orang yang memenuhi standar Allah pastilah orang yang berlaku demikian. Orang seperti itu tidak saja mengetahui apa yang diharapkan Allah dari orang-orang yang datang kepada-Nya, tetapi juga mempraktikkan prinsip-prinsip ini. Keterangan tentang keadaan tidak akan goyah selamanya memberikan klimaks yang tepat kepada mazmur ini.















 


a

LOGO






Sola Scriptura