Logo
Oleh-Dara-Nya

 

        

 


 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Renungan:  Hidup dalam kebenaran

Pengadilan adalah tempat keadilan ditegakkan. Di pengadilan, orang yang benar dibuktikan tidak bersalah, sebaliknya orang yang salah dinyatakan kesalahannya dan dijatuhi hukuman yang setimpal dengan perbuatannya.

Mazmur ini mungkin ditulis saat pemazmur menghadapi pengadilan dengan tuduhan dosa tertentu, yang setimpal dengan hukuman mati (ayat 9). Tidak ada penjelasan mengenai dosa apa yang dia lakukan. Akan tetapi, pemazmur mengklaim diri tidak bersalah. Dua kali ia menggunakan kata "hidup dalam ketulusan" (ayat 1, 11). Meski dituduh bersalah, hati nuraninya tidak menyalahkan dirinya. Oleh karena itu, ia percaya bahwa ia akan mendapatkan keadilan Tuhan yang melihat ke kedalaman hatinya untuk menemukan bahwa ia tidak bersalah (ayat 2).

Bukan hanya hati, pemazmur juga siap diuji kehidupannya secara faktual. Pemazmur mengajukan fakta positif dan negatif untuk menyatakan bahwa ia tidak bersalah. Fakta positif adalah bahwa ia hidup dalam kebenaran (ayat 3), dan setia beribadah di dalam rumah Tuhan (ayat 6-8). Kalau di dalam hatinya ada kepalsuan, pasti Tuhan tidak akan berkenan menerima ibadahnya. Berjalan mengelilingi mezbah sebagai tanda tak bersalah (ayat 6), mungkin bermakna mencari keadilan pada Tuhan (band. 1 Raj. 8:31-32). Secara negatif, pemazmur menegaskan sikapnya yang tidak ikut-ikutan orang yang berbuat jahat. Ia bahkan menyatakan sikap menentang perbuatan tangan mereka (ayat 4-5).

Kenyataan bahwa pengadilan di dunia ini, termasuk yang ada di negara tercinta kita ini, tidak sungguh-sungguh menegakkan keadilan, tidak boleh menjadi alasan bagi kita untuk tidak mempertahankan hidup dalam kebenaran. Kita tetap harus mengasihi Tuhan dan melaksanakan firman-Nya serta menolak ikut-ikutan berbuat dosa. Justru kita harus menjadi teladan dalam hal hidup benar dan tidak kompromi dengan kejahatan, agar kita lantang bersuara ketika melawan kejahatan.  (Sumber transkrip: Santapan Harian)

Tafsiran dari Wycliffe:

Penegasan Tidak Bersalah. Ujilah aku, ya Tuhan. Dia mengaku telah hidup dengan benar, telah menghindari bergaul dengan orang-orang Yahudi yang murtad dan telah ikut beribadah secara teratur. Ini semua sangat berbeda dengan perilaku musuh-musuhnya. Doa Memohon Pembuktian Tak Bersalah. Janganlah mencabut nyawaku bersama-sama orang berdosa. Permohonannya bukanlah agar dia terhindar dari kematian, melainkan agar dia tidak dikelompokkan dengan orang yang tidak takut kepada Allah, yaitu orang-orang yang dia hindari dalam hidup ini. Melalui doa memohon perlakuan khusus ini, dia memohon Allah Membebaskan dan mengasihani dirinya, sebab dia akan tetap hidup dalam ketulusan, berdiri teguh, dan memuliakan Tuhan di hadapan orang banyak.

     















 


a

LOGO






Sola Scriptura