Logo
Oleh-Dara-Nya

 

        

 


 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Renungan:  Menghadapi lingkungan fasik

Hidup benar sebagai umat Tuhan yang mendapatkan pengurapan (ayat 8) di tengah-tengah orang-orang yang fasik (ayat 3), sungguh tidak mudah. Apalagi kalau merasa sendirian (ayat 2), akan lebih mudah goyah dan berkompromi dengan kemunafikan. Itulah yang digumuli oleh pemazmur, dan juga banyak dihadapi oleh orang-orang percaya yang hidup di masa kini.

Kita tidak hidup di dunia yang steril dari dosa. Kita hidup bersama-sama dengan orang-orang yang munafik, yang serakah, yang menghalalkan segala cara, bahkan kalau perlu dengan menjatuhkan orang lain, karena tujuan untuk memperkaya diri. Kondisi demikian membuat kita terjepit. Bahkan dapat membuat kita berpikir, bahwa jika kita tidak ikut-ikutan munafik, maka kita akan dilibas habis. Meski kita sudah berdoa kepada Tuhan dan meminta kekuatan, tetapi tampaknya Tuhan tidak segera bertindak. Tak heran bila kita merasa sendirian, tidak tahu berapa lama lagi bisa bertahan.

Ada dua hal yang pemazmur lakukan untuk menghadapi situasi seperti itu.

Pertama, ia tidak berhenti berdoa dan berharap, walaupun Tuhan belum menjawabnya. Pemazmur percaya bahwa hanya Tuhanlah sumber kekuatan dan kemenangan iman. Sebab itu, pemazmur mengarahkan doa-doanya ke takhta Allah di ruang maha kudus (ayat 2). Maka dalam pergumulan itu, ia tidak kehilangan keyakinan bahwa Tuhan pasti akan menjawab dan menolong dia (ayat 6-7).
Kedua, pemazmur memohon keadilan Tuhan agar mereka yang jahat dihukum setimpal (ayat 4-5). Permohonan ini sangat realistis karena bila dibiarkan, kemunafikan mudah menjalar. Pemazmur merasa bahwa ia bisa jatuh ke dalam dosa yang sama (ayat 3). Dengan sendirinya, hal itu akan menjadi kesaksian yang buruk bagi umat Tuhan (ayat 9).

Oleh karena itu, mulailah dengan tetap bertekun dalam doa dan tidak berhenti berharap kepada Tuhan. Kita boleh minta keadilan Tuhan ditegakkan, tetapi sebagai murid Kristus, kita bisa mendoakan pertobatan mereka.  (Sumber transkrip: Santapan Harian)


Tafsiran dari Wycliffe:

Seruan agar Didengar. Janganlah berdiam diri … dengarkanlah. Pemazmur berseru agar Allah mendengar dan menjawab dia. Doa Meminta Campur Tangan. Doanya yang pertama ialah meminta perlindungan terhadap lawan-lawannya yang fasik. Tetapi, penekanannya cepat berubah menjadi seruan meminta pembalasan terhadap musuh-musuh ini. Ucapan Syukur untuk Doa yang Dijawab. Terpujilah Tuhan. Penerapan untuk Bangsa itu. Tuhan adalah kekuatan umat-Nya. Kenyataan bahwa Allah adalah kekuatan bagi pemazmur juga berlaku untuk bangsa itu dan rajanya.

















 


a

LOGO






Sola Scriptura