Logo
Oleh-Dara-Nya

 

        

 


 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Renungan:  Minta keadilan pada Tuhan

Di manakah dan kepada siapakah kita bisa berharap men-dapatkan keadilan? Seharusnya di pengadilan dan kepada hakim! Kenyataan memperlihatkan kepada kita, betapa buruknya sistem peradilan di negara kita. Selain itu, moralitas pelaku keadilan pun perlu dipertanyakan.

Pemazmur memilih meminta keadilan pada Tuhan (ayat 24). Ia memulai gugatannya"berbantah" (rib-Ibr. adalah istilah teknis di pengadilan) atas orang-orang fasik yang sedang menggugat (rib) dirinya (ayat 1) dengan gugatan palsu. Ia meminta Tuhan membela perkaranya (rib).

Apa kejahatan orang-orang yang digugat pemazmur?

Pertama, mereka senang berbuat jahat (ayat 7) dan menghancurkan orang lain yang tidak bersalah (ayat 4, 8). Kejahatan bagaikan makanan sehari-hari buat mereka.

Kedua, mereka membalas kebaikan dengan kejahatan (ayat 12-16), padahal pemazmur telah berlaku sangat peduli terhadap mereka (ayat 13-14). Ini mungkin yang paling menyakitkan dia secara pribadi. Bagi dia, ini merupakan sebuah pengkhianatan.

Ketiga, mereka bersikap sombong karena mengira gugatan mereka untuk menghancurkan si pemazmur pasti berhasil (ayat 21, 25).

Mazmur ini bukan ratapan orang yang dirundung duka dan putus asa, sebaliknya pemazmur sangat percaya bahwa ia dapat mengandalkan keadilan Tuhan (ayat 24, 28). Tuhan pasti membela perkaranya dan para musuh pasti akan terbukti bersalah. Oleh karena itu suasana yang dominan dari mazmur ini adalah keyakinan dan syukur (ayat 9-10, 27-28).

Dunia bisa saja berlaku tidak adil dan tutup mata terhadap kebenaran. Dunia bisa saja menindas dan memfitnah orang benar. Namun Tuhan tahu menjaga dan membela umat yang Dia kasihi. Sebagai orang percaya, kita sendiri harus memelihara hidup kudus, menegakkan keadilan, serta membela orang yang lemah dan tertindas. Jangan biarkan orang-orang fasik menemukan celah untuk mendakwa kita dan dengan demikian mereka mempermalukan nama Tuhan! Berharaplah kepada Tuhan dan bertindaklah benar. (Sumber transkrip: Santapan Harian)


Tafsiran dari Wycliffe:

Pemazmur di sini memberikan bukti lebih lanjut bahwa Allah adalah pengadilan. Permintaan Pertama akan Penghakiman. Berbantahlah, Tuhan. Dengan bahasa peperangan, pemazmur meminta keadilan menurut ukurannya sendiri. Dia mengungkapkan kemarahannya dengan meminta agar musuh-musuhnya dikalahkan, dipermalukan sama sekali dan jatuh ke dalam lubang yang mereka gali sendiri. Mereka membalas kebaikanku dengan kejahatan. Ini rupanya termasuk dalam kejadian lain. Permintaan Kedua akan Penghakiman. Hakimilah aku sesuai dengan keadilan-Mu, ya Tuhan. Lagi-lagi dia mengakhiri babak ini dengan ikrar untuk mengucap syukur.

















 


a

LOGO






Sola Scriptura