Logo
Oleh-Dara-Nya

 

        

 


 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Renungan:  Sakit karena dosa

Penderitaan apa yang dirasakan oleh orang yang sedang dihukum Tuhan dengan penyakit, oleh karena dosa-dosanya? Tentu yang paling kentara adalah rasa sakit secara fisik. Ada penafsir yang mengatakan, pemazmur menderita sakit kusta, karena dikatakan tubuhnya penuh luka, berbau busuk dan bernanah (ayat 6). Ada pula yang berpendapat bahwa pemazmur menderita sejenis penyakit kelamin karena bagian pinggangnya yang meradang dan seluruh tubuhnya menderita (ayat 8).

Yang lebih berat daripada rasa sakit secara fisik tentu rasa sedih karena ditinggalkan sahabat. Mungkin mereka meninggalkan dia karena jijik atau takut ketularan, bisa juga karena mereka tidak mau disangkutpautkan dengan dosa pemazmur yang menjadi sebab penyakitnya. Apapun alasan mereka, itu membuktikan bahwa dosa memang tidak mengenal kesetiakawanan. Setiap orang yang berbuat dosa harus menanggung sendiri akibatnya. Belum lagi para musuh yang menggunakan kesempatan untuk menghancurkan pemazmur saat ia sedang sakit. Kiat pemazmur mengatasi hal ini adalah dengan pura-pura tuli dan bisu sambil berharap bisa melupakan rasa sakitnya (ayat 17). Tentu saja kita tahu, hal itu adalah harapan kosong.

Yang paling menekan pemazmur tentunya adalah kesadaran bahwa Tuhan murka terhadap dirinya (ayat 2-5). Tidak ada yang lebih berat daripada tangan Tuhan yang menekan dirinya. Itu sebabnya pemazmur memohon agar Tuhan segera mengampuni dirinya (ayat 19) dan segera menolong mengatasi penyakitnya (ayat 22-23).

Kita bersyukur kepada Kristus karena kematian-Nya di kayu salib sudah menebus kita dari hukuman kekal dosa. Namun itu tidak boleh menjadi alasan bagi kita untuk hidup sembarangan di dalam dosa. Ingatlah bahwa Tuhan akan menghukum kita karena pelanggaran kita. Oleh karena itu, cepat akui dan bereskan dosa Anda. Jangan lagi bermain-main di dalamnya. (Sumber transkrip: Santapan Harian)


Tafsiran dari Wycliffe:

Ratapan orang yang menderita Pemazmur mengakui kenyataan bahwa penderitaannya adalah balasan yang pantas atas dosa-dosanya. Merasa ditinggalkan dan kesal hatinya maka dia berpaling kepada Allah sebagai harapannya yang terakhir dan satu-satunya. Pemazmur bukan melawan Allah atau mengklaim tidak bersalah. Dia memohon belas kasihan, agar penderitaannya diringankan. Harapan Kelepasan sebab kepada-Mu, ya Tuhan, aku berharap. Pemazmur tidak berusaha membuktikan kesalahan musuh-musuhnya, sebab harapannya hanya pada Allah. Setelah mengulangi pengakuan dosanya, dia menyampaikan lagi permohonannya agar dikasihani.













 


a

LOGO






Sola Scriptura