Logo
Oleh-Dara-Nya

 

        

 


 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Renungan:  Saat anda kalut

Perjalanan hidup orang Kristen di dunia yang berdosa ini tidak pernah tenang dan aman, tidak pernah bebas dari pergumulan. Selama masih di dalam dunia ini, selalu saja ada masalah di sekeliling kita dan yang siap menjatuhkan kita kalau lengah. Itulah yang digumuli oleh pemazmur. Ia sadar bahwa godaan untuk berhenti berjuang melawan dosa begitu besar. Lebih mudah baginya untuk menyerah dan mengikuti jalan dunia ini daripada bertekun menjaga kesucian diri. Namun kesadarannya sebagai umat Tuhan masih menguasainya. Oleh karena itu, ia mencoba bertahan (ayat 2).

Pergumulan pemazmur serasa bertambah berat karena Tuhan seperti membiarkan dia berada dalam situasi itu (ayat 13-14). Apa yang dialami pemazmur mirip dengan yang dialami Ayub, yang merasa bahwa Tuhan sedang menekan dirinya 'tanpa sebab'. Namun berbeda dari Ayub yang menyatakan diri tidak bersalah, pemazmur menyadari bahwa sebagai manusia, ia tidak luput dari melakukan kesalahan yang membuat Tuhan marah (ayat 9-12). Hanya saja ia tidak mengerti apa sebenarnya dosa-dosa yang membuat Tuhan menghukum dia. Yang ia tahu adalah bahwa ia hanya manusia fana, dan bahwa kesia-siaanlah yang sudah ia lakukan (ayat 5-7).

Apakah Anda sedang merasakan hal yang sama? Kita merasa berjuang sendirian menjaga kesucian hidup, sementara kita merasa bahwa Tuhan tidak peduli. Kadang kita bertanya di dalam hati, "dosa apa yang sudah saya lakukan, sehingga Tuhan membiarkan saya mengalami hal-hal ini?" Mazmur ini tidak memberikan jawaban yang melegakan. Namun kita patut bersyukur karena memiliki Juru syafaat, yaitu Tuhan Yesus yang setia. Dia adalah pembela kita di hadapan Allah Bapa. Demikian juga Roh Kudus yang hadir dalam hati orang percaya, menolong kita berdoa, saat pergumulan membuat kita kehilangan kata-kata doa (Rm. 8:26). Mari arahkan mata dengan tekun dan setia menantikan tangan Bapa meraih dan merangkul kita. (Sumber transkrip: Santapan Harian)


Tafsiran dari Wycliffe:

Doa memohon kekuatan Ketetapan Hati untuk Mengendalikan Diri. Aku hendak menahan mulutku. Pemazmur tergoda untuk mengeluh kepada Allah. Seperti Ayub, dia harus menahan godaan untuk mendakwa Allah melakukan kebodohan. Kehadiran orang-orang fasik menunjukkan ada sumber godaan dari luar. Sasaran doanya ialah agar dia dapat mengetahui betapa fana dan sia-sianya hidup ini. Dia mengungkapkan perasaan dan pikirannya tentang kesia-siaan tujuan manusia. Dia ingin dibawa kembali pada keyakinan yang kuat kepada Allah, yang akan mengusir pikiran-pikiran sia-sia ini. Permintaan Belas Kasihan. Dan sekarang … ya Tuhan … lepaskanlah aku. Berdasarkan pengharapannya sekarang ini di dalam Allah, dia dapat meminta Allah agar: Lepaskanlah … hindarkanlah aku daripada pukulan-Mu … dengarkanlah doaku … alihkanlah pandangan-Mu. Dari nadanya, permohonan-permohonan ini sungguh berbeda dengan pikiran-pikirannya sebelum itu. Pengenalan dan pengakuan dosanya telah menimbulkan kerendahan hati yang tidak mungkin terjadi sebelumnya.
















 


a

LOGO






Sola Scriptura