Logo
Oleh-Dara-Nya

 

        

 


 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Renungan:  Pengharapan jiwa yang tertekan

Bagaimana perasaan Anda bila Anda tinggal di lingkungan yang tidak seiman, tidak ada saudara dan teman seiman untuk berdoa dan bersekutu. Ditambah lagi, lingkungan itu tidak menyukai Anda karena Anda orang Kristen. Mereka menekan Anda dengan sikap tidak bersahabat, dan bahkan mengejek Tuhan Yesus yang bagi mereka bukan Tuhan.

Ada penafsir yang berpendapat bahwa Mazmur 42 ditulis oleh seorang Israel yang sedang mengalami pembuangan di Babel. Ia harus hidup di negeri asing yang menyembah berhala. Sementara itu, ia sendiri tidak dapat beribadah kepada Tuhannya dengan cara yang biasa, mungkin sekali situasi bertambah berat karena orang-orang Babel memperlakukan orang Israel seakan-akan Allah orang Israel tidak mampu menolong mereka.

Namun demikian, pemazmur tidak tinggal bahkan tenggelam dalam keadaan tertekan itu. Ia bangkit dari situasi itu. Ia menasihati jiwanya sendiri untuk keluar dari depresi. Apa yang dapat menolong pemazmur keluar dari perasaan-perasaan yang menekannya?

Pertama, pemazmur mengingat-ingat antuasiasme ibadahnya pada masa lampau, bagaimana dulu ia begitu bersemangat dalam menyembah Allah (ayat 5). Hubungannya dengan Allah begitu dekat dan intim. Maka hal itu mendorong si pemazmur untuk berpengharapan akan mengalami lagi saat-saat indah bersekutu dengan Allah.

Kedua, pemazmur mengingat-ingat kebesaran Allah dalam alam (ayat 8) dan kasih setia Tuhan yang telah dinyatakan dalam kehidupannya sehingga ia bisa menaikkan nyanyian dan doa syukur kepada-Nya. Pemazmur meyakini Allah tetap setia dan tetap satu-satunya perlindungannya. Oleh karena itu ia sekali lagi menguatkan jiwanya dan kembali menaruh pengharapan kepada-Nya.

Renungkan: Anak-anak Tuhan hanya dapat keluar dari depresi yang dahsyat jika menaruh pikiran kepada Allah yang terbukti setia pada masa lampau.
(Sumber transkrip: Santapan Harian)

Tafsiran dari Wycliffe:

Kerinduan kepada Allah. Hati pemazmur remuk karena tidak dapat melakukan ziarahnya yang lazim ke Bait Suci. Tampaknya dia hidup di Palestina bagian utara, di mana dia selalu diejek musuh-musuh yang tidak memiliki kerinduan kepada Allah, seperti yang dimilikinya. Seluruh syair itu merupakan satu keindahan puisi luar biasa, yang selalu menampilkan kerinduan dan harapan menjadi satu. Jiwaku haus kepada Allah. Sebagaimana anak rusa betina (bukan anak rusa jantan) tidak dapat menyembunyikan rasa hausnya, demikian juga pemazmur tidak dapat menyembunyikan hasratnya kepada Allah yang hidup. Musuh-musuhnya, yaitu orang kafir, mengejek dia dengan ucapan tentang sikap acuh tak acuh dari Allahnya. Yang paling tidak dapat dia tahan ialah kenangan tentang hari-hari ketika dia bisa memimpin jemaah menuju perayaan-perayaan penting, adalah rumusan indah berisi keyakinan dengan mana dia menghilangkan kesedihan hatinya. Hebatnya Rasa Putus Asanya. Samudera raya berpanggil-panggilan. Lagi-lagi pemazmur tertekan hatinya, kemudian mengungkapkan keputusasaannya yang lebih menyedihkan daripada sebelumnya. Walaupun dia berusaha berdoa dan mengingat kembali betapa kasih setia Allah itu tak terukur, tetapi dia masih merasa ditinggalkan. Ingatan pada ejekan-ejekan para musuhnya bercampur dengan kerinduannya pada Bait Suci. Dia mendapat kekuatan baru dengan mengulangi rumusnya untuk memperoleh ketenangan batin.










 


a

LOGO






Sola Scriptura