Logo
Oleh-Dara-Nya

 

        

 


 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Renungan:  Ikut menderita

Ketika Allah murka kepada umat-Nya, maka orang benar yang ada di tengah umat yang tidak setia itu akan merasakan juga akibat murka Allah tersebut. Pemazmur juga terimbas dan mengalami penderitaan akibat penghakiman Allah terhadap umat-Nya, sekalipun ia hidup benar.

Pemazmur mengingat kembali bagaimana Allah me-mimpin, berperang, dan memberikan negeri itu kepada nenek moyang mereka pada masa lampau (ayat 2-9). Namun sekarang Allah sendiri telah membuang umat-Nya, menyerahkan mereka sebagai domba sembelihan, dan menyerakkan mereka di antara bangsa-bangsa (ayat 10-12). Bahkan Allah telah menjual umat-Nya dengan cuma-cuma, tanpa keuntungan (ayat 13).

Pemazmur adalah orang benar yang tidak melupakan Tuhan dan tidak mengkhianati perjanjian-Nya (ayat 18). Namun ia ikut menderita ketika Allah membuang umat-Nya karena ketidaksetiaan mereka. Ia juga dicela dan dicemooh sehingga merasa sangat malu dan terhina (ayat 16-17). Ia paham benar bahwa bangsanya mengalami kehancuran sebagai akibat murka Allah, bukan karena kekuatan militer bangsa lain. Maka dengan tegas ia menyatakan bahwa ia dan saudara seiman yang lain tidak pernah melupakan Tuhan. Ia pun kemudian meminta supaya Tuhan terjaga dan jangan membuang mereka terus-menerus, karena ia sangat sadar bahwa Allah yang ia sembah adalah Allah yang penuh kasih setia (ayat 24-27).

Sebagai orang benar kadang kita harus ikut menanggung hukuman yang Allah timpakan kepada masyarakat. Ini karena Allah menuntut kita untuk ikut bertanggung jawab atas apa yang terjadi dalam gereja maupun masyarakat kita, selain tanggung jawab atas dosa kita secara pribadi. Meski hukuman itu berat, hendaknya kita tidak meninggalkan Tuhan. Sebaliknya, sebagai orang benar hendaknya kita terus berseru kepada Tuhan, memohon belas kasih dan pemulihan-Nya. Ingatlah murka Allah bukan untuk selama-lamanya. Dalam kasih setia-Nya Allah akan menolong dan meluputkan kita. Di sisi lain, hendaknya kita pun tetap setia. (Sumber transkrip: Santapan Harian)

Tafsiran dari Wycliffe:

Mazmur berlingkup bangsa ini penuh dengan perasaan pembenaran diri yang mendalam. Malapetaka berat yang disinggung dan penghinaan yang menyertai tidak dipandang sebagai akibat dosa, melainkan menjadi alasan untuk memarahi Allah. Semangat untuk memarahi secara tidak hormat tidak ditemukan di mana pun dalam Mazmur. Berbagai Pertolongan pada Masa Lalu. Pengertian sejarah ini kerap kali terlihat, sebab Allah dikenal paling baik melalui apa yang telah diperbuat-Nya. Semua kemenangan dimungkinkan oleh Allah. Pernyataan tersebut diulang terus-menerus bahwa bangsa itu tetap setia. Tidak pernah terjadi dalam sejarah Israel bahwa hal ini benar-benar ditepati. Seruan meminta Keadilan. Konsep bahwa Allah tertidur ketika sedang bekerja adalah tidak pada tempatnya, walaupun dalam ungkapan puitis sekalipun. Bagaimanapun, mazmur ini diakhiri dengan permohonan kepada Allah: Bebaskanlah kami karena kasih setia-Mu!













 


a

LOGO






Sola Scriptura