Logo
Oleh-Dara-Nya

 

        

 


 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Renungan:  Ke-raja-an Allah

Allah adalah Raja. Ini adalah pernyataan yang bersifat politis. Dunia pada zaman Alkitab hanya mengenal satu tipe pemerintahan yaitu kerajaan. Di sebuah kerajaan yang berdaulat, raja adalah pemimpin tertinggi yang dihormati dan ditaati oleh rakyatnya. Seseorang menjadi raja karena tindakan kepahlawanannya bagi rakyat, sehingga rakyat menerima dan mengangkat dia sebagai raja.

Allah adalah Raja bukan karena manusia menerima dan mengangkat Dia sebagai Raja. Bukan pula karena Allah telah berjasa bagi manusia. Allah adalah Raja sebab Dialah Sang pemilik alam semesta dan segala isinya, termasuk manusia. Dia Sang Pencipta, Pemilik, dan Penebus manusia yang sudah jatuh ke dalam perbudakan dosa.

Tindakan penebusan Allah, yang dinyatakan lewat penyelamatan-Nya atas Israel yang diperbudak Mesir, adalah akibat dari tindakan Allah mewujudkan ke-Raja-an-Nya. Dialah yang menaklukkan bangsa-bangsa ke bawah kuasa umat-Nya agar mereka mengakui bahwa Dialah Raja atas segala raja di muka dunia ini (ayat 4, 9).

Bagaimana sikap bangsa-bangsa seharusnya terhadap Allah, yang adalah Raja? Dengan pengakuan dan penghormatan serta ketaatan mutlak! Pengakuan bahwa Allahlah satu-satunya yang berhak mengatur hidup bangsa-bangsa. Kenyataannya, banyak bangsa yang menolak me-Raja-kan Allah. Kepada mereka, Allah bertindak dalam ke-mahakuasaan-Nya (Mzm. 2). Itu sebabnya sejarah di Alkitab (lih. Dan. 2) maupun dunia memberi kesaksian bahwa tak ada bangsa yang menolak Allah, yang akan terus berjaya. Satu persatu mereka akan tumbang.

Di dalam Perjanjian Baru, Ke-Raja-an Allah dinyatakan secara sempurna lewat Tuhan Yesus. Dialah Raja bukan dalam konteks bangsa-bangsa, tetapi dalam hati setiap orang percaya. Dia adalah Pencipta dan Pemilik, bahkan Penebus hidup. Karya penebusan Kristus mengkonfirmasi bahwa Dialah satu-satunya yang berhak atas titel Raja. Tugas kita yang sudah menjadi anggota Keraja-an-Nya adalah memproklamasikan Injil Kerajaan Allah. Sebab ketika Injil diberitakan dan disambut, kuasa Ke-Raja-an Allah sedang dinyatakan (Flp. 2:10-11). (Sumber transkrip: Santapan Harian)

Tafsiran dari Wycliffe:
Aspek nubuat dari mazmur ini menemukan penggenapannya kelak ketika Kristus memerintah di bumi. Ajakan untuk Bersukacita. Bertepuk tanganlah … Dengan sorak-sorai ! Dengan nada eskatologis semua bangsa diajak untuk bersukacita. Gambaran tentang kedaulatan ilahi yang diperkenalkan dalam Mazmur 46, mencapai puncak baru di sini. Seperti para nabi, di sini pemazmur membayangkan tindakan pada waktu yang akan datang sebagai peristiwa yang terjadi sekarang. Dia melihat semua bangsa tunduk, sementara Israel berdiri dalam hubungan unik dengan Allah sebab Allah adalah harta pusakanya. Ajakan untuk Memuji Tuhan. Bermazmurlah! Di sini terjadi sedikit perubahan dari sukacita penuh keriangan menjadi pujian yang lebih resmi. Isyarat perubahan kepada pujian itu terlihat dalam ayat Mazmur 47:5. Kemenangan Tuhan pada masa yang akan datang sekali lagi ditampilkan sebagai kejadian masa kini untuk memberikan keyakinan pada kepastian mutlaknya.















 


a

LOGO






Sola Scriptura