Logo
Oleh-Dara-Nya

 

        

 


 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Renungan:  Bangun pagi bersama Tuhan

Bagaimana seharusnya kita memulai hidup kita setiap hari bersama Tuhan? Bolehkah dengan mengeluh dan berteriak minta tolong kepada-Nya? Pantaskah anak-anak Tuhan berlaku seperti itu? Kalau Daud saja memulai harinya dengan keluhan dan tangisan, bukankah manusiawi kalau itu juga yang kita rasakan?

Justru tangisan dan teriakan kita kepada Tuhan merupakan doa yang Dia dengar dan Dia pedulikan. Bukankah hati yang hancur dan remuk merupakan persembahan kurban yang Tuhan terima (ayat 4; Mzm. 51:19)? Karena hanya dengan memiliki hati yang seperti itulah kita siap melihat Tuhan menyatakan karya-Nya dan kedaulatan-Nya di dalam dan melalui kita.

Memulai hari bersama Tuhan menolong kita melihat dunia dari perspektif Allah. Bahwa Allah membenci perbuatan fasik yang dilakukan dengan penuh kesombongan dan bahwa Tuhan tidak akan membiarkan kejahatan terus menerus meraja lela (ayat 5-7, 10). Suatu saat pasti keadilan Allah akan dinyatakan kepada mereka (ayat 11).

Pada saat yang sama, memulai hari bersama Tuhan juga menolong kita untuk tidak menyombongkan diri seakan-akan kesalehan kita adalah jasa kita. Sebaliknya, bersama pemazmur kita bisa merendahkan diri dan berkata, semua itu karena kasih setia-Nya (ayat 8). Oleh kasih karunia itulah kita bisa bersukacita dan bersorak sorai karena perlindungan Tuhan nyata. Rencana orang fasik untuk membinasakan orang benar tidak akan pernah berhasil karena Tuhan menjadi penjaga dan pelindung kita (ayat 22-23).

Apa kekhawatiran yang sedang Anda rasakan? Rongrongan dari orang-orang yang membenci Anda karena iman Anda? Gosip dan fitnah yang mencoba menjatuhkan Anda? Tekanan atasan agar Anda kompromi dengan cara-cara curang dunia ini? Jangan hadapi sendirian. Mulai setiap hari dan tempuh sepanjang hari dengan berseru dan bersandar pada Tuhan!
(Sumber transkrip: Santapan Harian)


Tafsiran dari Wycliffe:

Di dalam mazmur ini terasa ada suasana perselisihan di antara orang benar dengan orang fasik. Pemazmur sadar bahwa Allah tidak mungkin membiarkan dosa dan tinggal bersama dengan orang jahat. Oleh karena itu, Allah tidak akan membiarkan pembual untuk berdiri di hadirat-Nya. Allah memandang jijik kepada orang yang melakukan kejahatan. Pada saat orang-orang fasik ini penuh pengkhianatan, pemazmur tersungkur di hadapan Allah memohon tuntunan ilahi. Doa memohon pembalasan. Buanglah mereka. Doa dilanjutkan dengan permohonan akan keadilan atas para musuh ini. Sebagai orang-orang yang memberontak melawan Allah, mereka harus dinyatakan bersalah, dibiarkan jatuh dan terbuang sama sekali. Berbeda dengan nasib tiga dari orang fasik, orang-orang yang mengandalkan Allah saling berbagi sukacita yang tidak ada habisnya. Mereka akan bersukacita, bersorak-sorai dan mengasihi nama-Mu.

















 


a

LOGO






Sola Scriptura